Langit Jakarta meredup, seperti sangat berduka ketika Senin pagi itu tanpa pikir panjang saya tancap gas menuju Bandara hanya berbekal tekad, berharap di sana bisa go-show mendapatkan tiket pesawat paling pagi menuju Surabaya. Semua situs penjualan tiket online paling cepat hanya tersisa penerbangan jam 14.00. Kabar mendadak berpulangnya Abah Yai membuat saya panik, kacau, atau entahlah, saya kesulitan menamai apa yang saya rasakan saat itu.Catatan Kenangan Hari-hari Terakhir bersama Gus Sholah | Sebuah Obituary
Langit Jakarta meredup, seperti sangat berduka ketika Senin pagi itu tanpa pikir panjang saya tancap gas menuju Bandara hanya berbekal tekad, berharap di sana bisa go-show mendapatkan tiket pesawat paling pagi menuju Surabaya. Semua situs penjualan tiket online paling cepat hanya tersisa penerbangan jam 14.00. Kabar mendadak berpulangnya Abah Yai membuat saya panik, kacau, atau entahlah, saya kesulitan menamai apa yang saya rasakan saat itu.JULIA Mencari tuhan | Pergulatan batin yang belum selesai.
Terlahir dari orang tua berbeda keyakinan, memaksa Julia kecil berada pada posisi rumit dalam mengakomodir pemahaman spiritual yang seringkali terkonfrontasi. Apalagi perdebatan dan pertengkaran kedua orang tuanya tentang masalah keyakinan ini terus berlangsung dari waktu ke waktu. Pertanyaan demi pertanyaan, protes demi protes seputar ketuhanan tercerabut keluar dengan sendirinya dari kepala gadis kecil Julia yang barangkali secara volume otak belum saatnya menghadapi situasi tersebut.
Hingga secara psikologis, pergolakan pemikiran yang belum selesai di masa kecil itu membentuk pribadi Julia dewasa yang menurut saya masuk dalam kategori ‘skeptic’. Sepertinya ia masih saja belum mampu yakin meski pencarian dan perburuan panjang ia telusuri. Mulai dari filosofi secangkir espresso favorit hingga kehidupan romansa dalam cara-cara penilaian subjektifnya terhadap relijiusitas lawan jenis yang menawan perhatiannya.
Sebenarnya ini adalah problem klasik di negara dengan heteroginitas agama seperti di Indonesia. Tiba-tiba saya jadi merasa, bukan sepenuhnya eksistensi Tuhan yang sedang diburu oleh Julia. Buktinya ia sempat berfikir bahwa ia tetap berdoa dalam diam dan begitu yakin doa itu didengarNya, meski ia sedang berdiri di persimpangan antara keyakinan Ayah ataukah Ibunya.
Sejatinya yang sedang diburu Julia juga korban-korban lain yang senasib dengannya adalah metode, sabiil, the way, atau jalan yang benar menuju Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Metode itulah yang biasa diperdebatkan sebagai “kebenaran”. Seringkali keterpurukan batin menjadi modal awal mempertanyakan keadilan dan kasih sayang Tuhan. Padahal keadilan dan kasih Tuhan sudah lebih dulu kita terima bahkan sejak dalam kandungan secara sistematis sebelum keterpurukan itu sendiri. Sistem metabolisme kandungan ibu yang memanjajan janin, oksigen gratis yang terhirup, grafitasi dan tak terhitung lagi banyaknya kasih dan keadilan itu akan begitu saja terlupakan saat kita mempertanyakannya dalam kondisi psikologi dan logika yang sedang lemah tertutup ego.
Saya pribadi memahami metode itu sebagai ‘wahyu’ yang harus dipahami sebagai rentetan sejarah panjang yang logis ketika diterima akal dan hati. Artinya untuk sementara saya harus mengabaikan moral oknum manusia untuk bisa fokus pada ajaran kebenaran itu sendiri dalam rangka mencapai jalan Tuhan. Bukankah tanpa agama bahkan tanpa tuhan sekalipun moral kita tetap akan dikategorikan sebagai tercela jika seenaknya meludahi orang lain? Sebaliknya, sedikit simpati menolong kaum lemah adalah tetap disebut kebaikan meskipun di bumi yang tak kenal agama. Artinya, agar tidak distract, fokus kepada ajaran kebenaran, abaikan sementara perilaku amoral sedikit pemeluknya jika ada, akan membuka jalan logika simetris dengan kebenaran itu sendiri.
Anyway, Pergolakan batin karakter bernama Julia dalam novel ini menarik untuk disimak sebagai bahan pemikiran dan diskusi dalam proses kita bergumul dalam heteroginitas agama di Negara besar ini. Namun demikian tetap kedepankan prinsip “tak ada paksaan dalam beragama”. Pihak manapun yang memaksakan keyakinan, pasti akan menemui perlawanan. Sebab dalam keyakinan aqidah tidak ada jalan tengah. Jika meyakini hitam, otomatis menolak yang putih dan sebaliknya.
Selamat membaca, selamat mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan kritis Julia dalam novel setebal 160 halaman ini…
Hari Ini Saya Memilih Menjadi "Bodoh"
Pasca Aksi Super Damai 212, semua orang pada sibuk teriakkan berbagai analisa dengan angle sesuai "kemauan" masing-masing. Itu wajar, karena hidup ini memang pilihan bebas.
Sementara mereka pemilik moment besar itu, yaitu para pelaku yg berjibaku turun ke monas dengan segala daya upaya, malah sudah gak mikirin apa-apa lagi selain ikhlas dan gembira karena 'perjuangan' mereka berakhir damai seperti yang sudah mereka rencanakan jauh hari. Mereka pulang diam-diam ke rumah dan daerah masing-masing dengan ongkos dan akomodasi sendiri-sendiri.
Politik? Haha... ini gak ada urusan dengan politik, apalagi SARA. Mayoritas mereka bahkan gak peduli dengan politik. Siapa? Anak-anak belasan tahun itu? Kakek-nenek 80 tahunan itu? Atau seorang difabel yang datang dengan kursi roda itu? Ah, nyang bener aja.
Justru respon pemerintah, media mainstream dan The Nyinyirers lah yang dengan semena-mena membawa aksi ini jadi seakan peristiwa politik praktis. politisi mana di dunia ini yang mampu mendatangkan jutaan, sekali lagi jutaan manusia dari penjuru Nusantara dengan biaya dan fasilitas sendiri-sendiri?
Masalahnya mereka terlalu focus sama Habib Rizieq. Beliau hanya salah satu muslim yang turut berjuang. Bagi saya pribadi, gak ada satu pun manusia yang sanggup mengumpulkan jutaan manusia sebanyak itu dengan kesadaran penuh dan ongkos masing-masing, termasuk Habib Rizieq atau Ust. Bachtiar Natsir. Lahh, terus siapa? Ya pikir aja ndiri...
Ya, memang saya berkali-kali bilang bahwa hidup ini pilihan bebas. Tapi apa ya perlu bikin aksi-aksi tandingan dengan sebutan Bhineka, maksain banget biar yang 212 atau 411 terkesan anti bhineka, intoleran dsb. Saya kira itu justru politis. Ah, sudahlah..
Saya? Hmmm.. sejujurnya saya masih saja tertunduk, belum mampu mengangkat kepala akibat pukulan telak anak-anak muda Ciamis itu. Sangat telak, mereka ajarin saya tentang kata "BERKARAKTER" dalam arti yang sesungguhnya.
Silent Hero. Ya, itu sebutan saya buat mereka. Selama menyangkut Allah dan RasulNya yang mereka cintai, mereka bergerak maju tanpa ribet cari alasan. Gak banyak mulut, tanpa keluhan, meski jelas-jelas terbentang 300 Kilo Meter titian terik dan hujan menuju Ibukota.
Sebagian bilang mereka konyol. Ya gapapa, lagi-lagi hidup ini pilihan bebas. Tapi bagi saya lebih konyol lagi orang yang berpikir bahwa kualitas semua manusia sama kayak dirinya. Mereka yakin bener berpikir bahwa kualitas santri-santri ini kalo gak ada bus gak jadi berangkat. Emang kalian..!?
Mau ketawa? Yuk ketawa bareng, tapi pelan-pelan aja biar ga ada yang tersinggung. Yang model begitu emang layak diketawain. Toh sekali lagi, hidup ini pilihan bebas, bukan?
Terimakasih Dik, Nak, Mbah, Bu, para Mujahid dari Ciamis... Kalian luar biasa. Seketika mengingatkan saya militansi Jenderal Soedirman dan gerilyawannya, Pangeran Diponegoro bersama santri-santrinya, Bung Tomo dengan arek-arek Suroboyonya, dan masih banyak lagi para pahlawan Nusantara (Allahummaghfir lahum) yang memungkinkan kita bisa merasakan punya harga diri, paling tidak sampai hari ini.
Tolong doakan saya. Seperti kalian, semoga Yang Esa membimbing saya, bagaimana seharusnya berdiri mengikuti hati nurani seperti cara seorang hamba laki-laki berdiri...
Biarkan mereka mencibir. Bukankah ketika melawan, Pangeran Diponegoro dan para santri dulu juga dicibir oleh kaum pribumi yang sudah terlanjur nyaman memakan gaji gulden, sementara anak-anak mereka menjadi ningrat baru yang bersekolah di sekolah Belanda?
Biarlah mereka menganggap bodoh.
Maka hari ini saya rela memilih menjadi 'bodoh' daripada selamanya saya tidak sadar bahwa saya ini 'bodoh'.
Sebab definisi dari jaahil murokkab atau bodoh kuadrat adalah; "Laa yadri annahu laa yadri". Jadi yang lebih bodoh dari si 'bodoh' adalah mereka yang tidak tahu bahwa dirinya bodoh.
Wallaahu a'lam...
Ampuni saya Yaa Rabb...
Buku Trimurti, Upaya Visualisasi Titik Berangkat Perjalanan Gontor

Sejak awal menerima buku ini, saya sudah gak sabar ingin segera membaca. Bukan saya sebegitunya haus bacaan, tapi memang sudah lama saya mereka-reka visual cerita sejarah yang tentu sudah sering saya dengar tentang tiga tokoh pendiri Pondok Modern Gontor, para Kyai dan guru-guru saya, Trimurti, Allah Yarhamuhum.
Ultah Dua Manusia Terkasih
Empati untuk Palestina. Salah?
Soal Palestina itu,
Mmm... Menurutku gini ya bros...
Ada dari kita yang tersentuh atas nama humanisme, tepat.. memang wanita dan anak2 dibantai dg kejam di sana.
Ada yang berpendapat itu hanya soal sengketa tanah, ya gak salah, toh dunia sepakat kolonialisme harus dihapuskan dari muka bumi..?
Ada sebagian umat Islam kebetulan merasa solider, ya monggo aja.. faktanya penduduk yg jadi korban di sana 80% Muslim...
Bagi yang kebetulan diberi harta lebih, silahkan sumbang dg harta...
Bagi yg dianugerahi otak brilliant, monggo sumbangkan solusi pemikiran...
Bagi yang punya tenaga dan waktu luang mau jadi relawan ke sana, ya boleh2 aja...
Bagi yang baru bisa sekedar mendoakan, itu pun mulia sekali...
Bahkan yg hanya mampu sharing berita di socmedpun pasti ada manfaatnya. Itu sebuah sikap.
So speak out...!
Ya... memang gak semua Yahudi itu Zionis. Gak semua mereka ikut tertawa dg agresi berumur puluhan tahun itu.
Ya... mungkin gak semua strategi Hamas bisa dibenarkan...
Tapi lihat, gak ada kata politik dalam daftar empati di atas...
Aku yakin, sebagian mereka yang getol bantu di Palestina juga sudah pernah jadi relawan di pedalaman Indonesia Timur, bencana Aceh, Sinabung, Merapi dsb.
Terus alasan apalagi yang harus dicari2 untuk diributin?
Jadi, di mana posisi Anda?
Jika mampu, silahkan saja berbuat sesuai kapasitas dan alasan anda, hormati kapasitas dan motivasi orang lain yang beda. Bukannya begitu cara toleransi bekerja..?
O ya, aku setuju untuk kita tidak upload gambar2 yang cenderung sadis di wall public...
NOTE:
Ini bukan surat buka-bukaan.. Ini aku ngomong sendiri... :D
Piss... :)
Memikirkan Kebaikan di Pintu Ramadhan
Cara Compress File Video Berkualitas HD untuk Upload ke Youtube
Memang ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas compressing video untuk bisa diupload ke Youtube. Selain batas ukuran maksimum yang sudah ditentukan oleh Youtube, bisa juga jenis encoder, aspect rasio, frame rate dan seterusnya yang mempengaruhi.
Nah, untuk itu kali ini saya mau coba sedikit berbagi bagaimana men-setting format render atau eksport video untuk diuload ke youtube dengan kualitas HD yang bagus (paling tidak menurut saya :D), tidak terlalu rendah tapi juga tidak terlalu besar untuk kebutuhan upload.
Yuk, langsung aja, di bawah ini saya contohkan active-timeline sebuah iklan commercial yang pernah saya kerjakan. Saya akan coba urutkan satu persatu setting yang saya pakai dengan menggunakan software editing Final Cut Pro 7.
1. Tekan tombol ‘FILE’ > ‘EXPORT’ > ‘USING QUICKTIME CONVERSION’ seperti gambar di bawah-kiri ini.
3. Dengan menekan tombol ‘SETTING’ anda akan masuk ke ‘Standard Video Compression Settings seperti di bawah ini.
4. Perhatikan bagian box yang saya beri tanda garis bawah warna orange. Pada kolom pilihan ‘Compression Type’ saya gunakan H.264, ‘Key Frames’ saya pilih ‘Every’ dengan 30 frames atau bisa juga anda gunakan 24 sesuai default. Untuk ‘Data Rate’ saya pakai ‘Restrict to’ bisa diisi 1000 hingga 5000 kbits/sec. Untuk ‘Encoding’nya saya gunakan pilihan ‘Best Quality’ dengan double pass lalu klik ‘OK’ maka anda kembali ke dialog box 'Movie Setting' (gambar bawah-kiri).
5. Sekarang tekan tombol ‘SIZE’ untuk memasuki ‘Export Size Settings’ (atas kanan) dan di kolom ‘Dimensions’ kali ini cukup saya pilih HD 1280 X 720 tentunya dengan aspect ratio 16:9. Jika sudah, anda bisa centang kolom ‘ Preserve Aspect Ratio Using’ ‘Letterbox’ seperti yang tampak pada gambar di bawah-kiri, lalu klik ‘OK’.
6. Kini anda sudah kembali ke dialog box ‘SAVE’ (atas-kanan), silahkan ganti nama file sesuai keinginan anda lalu alamatkan file video yang akan anda export ke hardisk yang dikehendaki seperti gambar kanan atas lalu klik ‘SAVE’. Jika rendering selesai video anda pun siap diupload ke Youtube dengan selamat, insyaAllah... :D
Compressing file video untuk keperluan upload internet memang tidak mungkin bisa sebagus originalnya karena akan terlalu besar dan berat. Metode yang biasa saya gunakan di atas hanya salah satu dari banyak cara lainnya. Sejauh yang saya tau, hasilnya lumayanlah untuk present via internet, hehe... Jika mau tau hasilnya, monggo bisa anda tonton DI SINI.
Silahkan dicoba, semoga bermanfaat.









