Jika tidak sedang menonton, anda pasti sedang ditonton. Sebab drama adalah anda, saya dan secuil ruang dunia yang sedang kita bagi ini....
Tampilkan postingan dengan label BEHIND THE STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BEHIND THE STORY. Tampilkan semua postingan
02 November 2017

JULIA Mencari tuhan | Pergulatan batin yang belum selesai.

Begitu kurang/lebih kesan semampir di benak saya sesaat setelah membaca novel karya Atika C. Larasati ini. Menceritakan pergolakan pemikiran spiritual seorang wanita bernama Julia dalam mencari eksistensi Tuhan sejak dalam kandungan hingga dewasa, menurut saya novel ini apik dari sisi cara bertutur, lugas meski terkesan berhati-hati dan seringkali saya temui ada kegamangan, berusaha jujur untuk menghindari keberpihakan, dan yang menarik, ada keabsurdan ide yang cukup jeli ketika dengan gaya ‘akuan’ penulis berani memaparkan dengan gamblang pengaruh situasi luar terhadap dirinya bahkan saat ia masih berupa janin dalam alam kandungan.

Terlahir dari orang tua berbeda keyakinan, memaksa Julia kecil berada pada posisi rumit dalam mengakomodir pemahaman spiritual yang seringkali terkonfrontasi. Apalagi perdebatan dan pertengkaran kedua orang tuanya tentang masalah keyakinan ini terus berlangsung dari waktu ke waktu. Pertanyaan demi pertanyaan, protes demi protes seputar ketuhanan tercerabut keluar dengan sendirinya dari kepala gadis kecil Julia yang barangkali secara volume otak belum saatnya menghadapi situasi tersebut.

Hingga secara psikologis, pergolakan pemikiran yang belum selesai di masa kecil itu membentuk pribadi Julia dewasa yang menurut saya masuk dalam kategori ‘skeptic’. Sepertinya ia masih saja belum mampu yakin meski pencarian dan perburuan panjang ia telusuri. Mulai dari filosofi secangkir espresso favorit hingga kehidupan romansa dalam cara-cara penilaian subjektifnya terhadap relijiusitas lawan jenis yang menawan perhatiannya.

Sebenarnya ini adalah problem klasik di negara dengan heteroginitas agama seperti di Indonesia. Tiba-tiba saya jadi merasa, bukan sepenuhnya eksistensi Tuhan yang sedang diburu oleh Julia.  Buktinya ia sempat berfikir bahwa ia tetap berdoa dalam diam dan begitu yakin doa itu didengarNya, meski ia sedang berdiri di persimpangan antara keyakinan Ayah ataukah Ibunya.

Sejatinya yang sedang diburu Julia juga korban-korban lain yang senasib dengannya adalah metode, sabiil, the way, atau jalan yang benar menuju Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri. Metode itulah yang biasa diperdebatkan sebagai “kebenaran”. Seringkali keterpurukan batin menjadi modal awal mempertanyakan keadilan dan kasih sayang Tuhan. Padahal keadilan dan kasih Tuhan sudah lebih dulu kita terima bahkan sejak dalam kandungan secara sistematis sebelum keterpurukan itu sendiri. Sistem metabolisme kandungan ibu yang memanjajan janin, oksigen gratis yang terhirup, grafitasi dan tak terhitung lagi banyaknya kasih dan keadilan itu akan begitu saja terlupakan saat kita mempertanyakannya dalam kondisi psikologi dan logika yang sedang lemah tertutup ego.

Saya pribadi memahami metode itu sebagai ‘wahyu’ yang harus dipahami sebagai rentetan sejarah panjang yang logis ketika diterima akal dan hati. Artinya untuk sementara saya harus mengabaikan moral oknum manusia untuk bisa fokus pada ajaran kebenaran itu sendiri dalam rangka mencapai jalan Tuhan. Bukankah tanpa agama bahkan tanpa tuhan sekalipun moral kita tetap akan dikategorikan sebagai tercela jika seenaknya meludahi orang lain? Sebaliknya, sedikit simpati menolong kaum lemah adalah tetap disebut kebaikan meskipun di bumi yang tak kenal agama. Artinya, agar tidak distract, fokus kepada ajaran kebenaran, abaikan sementara perilaku amoral sedikit pemeluknya jika ada, akan membuka jalan logika simetris dengan kebenaran itu sendiri.

Anyway, Pergolakan batin karakter bernama Julia dalam novel ini menarik untuk disimak sebagai bahan pemikiran dan diskusi dalam proses kita bergumul dalam heteroginitas agama di Negara besar ini. Namun demikian tetap kedepankan prinsip “tak ada paksaan dalam beragama”. Pihak manapun yang memaksakan keyakinan, pasti akan menemui perlawanan. Sebab dalam keyakinan aqidah tidak ada jalan tengah. Jika meyakini hitam, otomatis menolak yang putih dan sebaliknya.

Selamat membaca, selamat mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan kritis Julia dalam novel setebal 160 halaman ini…
Read more ...
17 September 2008

Rama, Shinta and Me...

Rama dan Shinta adalah dua ekor monyet yang sedang terlibat dalam sebuah pergulatan emosi bercinta. Emosi yang sewajar dan senormalnya musti dilalui oleh setiap makhluk yang mengaku hidup ciptaan Tuhan. Menjadi begitu, karena memang Tuhan pun menciptakan rasa cinta sebagai bagian dari hidup, seperi Dia menciptakan oksigen atau air.

Sebulan lalu Rama merasa perlu untuk menumpahkan apa yang dirasa tentang sekelumit ’beat’ cinta melalui degub dadanya kepada Shinta sang monyet betina.

Shinta (seperti tradisi aneh perempuan lain): ”Apa harus aku jawab sekarang?”
Rama (pun mengikuti tradisi aneh para pria dengan menahan diri): ”Ya kalau belum ada jawaban aku tunggu sampai kamu siap...”

Hanya itu, dan setelah sebulan berjalan Shinta semakin bingung. Karena seperti bathinnya saat itu, ia seharusnya bisa mendapat lebih dari sekedar Rama yang hanya seekor monyet liar. Meski hati kecilnya harus mengakui bahwa sejak awal hatinya pun punya rasa sayang untuk tipikal Rama. Tapi sebagai betina, ia pun musti ikut-ikutan tradisi bahwa perempuan sebisa mungkin harus mendapatkan si raja monyet biar masa depan hidupnya bahagia, berlimpah dengan buah-buahan segar yang bebas kapanpun ia mau petik. Paling tidak se-level di atas Rama pun it’s fine laah...

Selain menunggu sambil sedikit melempar rayuan dan godaan maut pada setiap jantan yang dijumpainya terutama sang raja, Shinta pun semakin bimbang. Kini lebih banyak lagi jantan yang harus ia pertimbangkan dan semuanya menunggu jawaban. Jika mau jujur, ia lebih cenderung ke Rama, meski masih ada sesuatu yang mengganjal tentangnya, entah apa itu. Tapi, lagi-lagi ia harus menerapkan tradisi aneh kaum betina bahwa kesungguhan Rama harus diuji terlebih dulu. Maka Shinta pun merasa perlu untuk berpura-pura.

Rama: Sudah lebih sebulan dan kamu belum bisa menetapkan hatimu untuk niat baikku?
Shinta: Tidakkah kamu tau bahwa betina memang harus begitu?
Rama: Maksudmu harus menggantung dan menjadikan jantan sebagai pilihan?
Shinta: Mungkin itu benar, tapi betina juga harus malu.
Rama: Malu itu harus! Tapi jangan samakan dengan gengsi...
Shinta: Maksudmu?
Rama: Kalau mengakui isi hatimu saja kamu begiitu sombong, bagaimana kelak kamu harus merendahkan diri dengan menyayangi aku dan anak-anak kita?
Shinta (terdiam sebentar): Kok kamu jadi ge’er? Lagian belum lama kamu tau aku, kenapa sudah bilang cinta?
Rama (tersenyum): Bagiku waktu segitu sudah cukup untuk pahami isi hatiku.
Shinta: Kok bisa? Gimana jika kenyatan sesungguhnya aku adalah pelacur?
Rama: Aku akan tetap mencintaimu.
Shinta: Gombal!
Rama: Aku bersumpah!
Shinta: Kenapa?
Rama: Ya, hanya karena itulah aku disebut jantan.
Shinta: Hanya itu?
Rama: Karena aku selalu berusaha mencintai kelemahanmu.
Shinta (sinis): Emang kamu tau kelemahanku, Huh..?!
Rama: Sangat jelas.
Shinta (sewot): Sok tau! Emang kamu tau dari mana?
Rama (masih tersenyum): Karena sampai hari ini aku sudah berkali-kali dicintai dan mencintai betina karena kelebihan mereka yang tidak satu pun kelebihan-kelebihan itu kujumpai dari kamu sampai detik ini.

Shinta terdiam, tertunduk. Otaknya berputar keras berusaha menangkis kata-kata Rama, dadanya berdegub kencang menahan sakit hati, tapi batinnya belum mampu membantah ucapan monyet jantan dihadapannya.

Shinta: Sebenarnya apa yang sedang kamu harapkan dari aku?
Rama: Sebenarnya sederhana saja. Cintai aku karena kelemahanku. That’s it...
Shinta: Kenapa begitu?
Rama: Karena aku tau, terlalu banyak jantan yang kau cintai karena kelebihan mereka.

Rama melompat ke sebuah cabang pohon lain tak jauh dari Shinta yang semakin berkecamuk tak karuan. Di dalam dadanya masih terjadi silang sengkarut khas ala kaum betina, antara setuju, sakit hati, gengsi dan kesombongan. Tapi ternyata energinya terlalu lemah untuk pertarungan itu saat Rama berpamitan untuk pergi jauh dan sebisa mungkin tidak akan kembali lagi.

Rama: Mulai sekarang, lupakan semua ucapanku biar engkau lebih bebas memilih apa yang kau inginkan…

Rama melompat semakin menjauh hendak pergi.

Shinta: Rama...!

Rama terhenti, bergelantungan di sebuah cabang pohon tanpa menengokkan wajahnya ke arah Shinta yang menatapnya dalam-dalam.

Shinta (berbisik): Kini aku tau, kamulah jantan yang paling mencintai aku Rama... Kamulah jantan yang ingin kucintai selama ini...

Rama: Maafkan aku Shinta... Aku tidak ingin kau mencintai aku karena kau anggap aku sehebat itu. Aku hanya ingin kau mencintai kelemahanku agar hidup ini indah...

Shinta terguncang hebat. Ia hanya bisa menatap Rama yang mulai menjauh. Tapi belum begitu jauh, tiba-tiba Rama kembali berhenti. Kali ini ia menengok, menatap wajah Shinta dalam-dalam.

Rama: Ada yang lupa kukatakan... Aku baru sadar hari ini, sungguh! ternyata kau saangat cantik.... Selamat tinggal Shinta...

Rama kini melompat sangat jauh dan benar-benar menjauh.

”Monyet sialan.. monyet sok....!”
Saya menggerutu habis-habisan karena puluhan biji kacang yang saya lemparkan, hanya beberapa saja yang termakan. Sampai saya menangkap ekspresi tunduk yang luar biasa dari monyet betina di dekat saya. Sesekali masih menatap si jantan yang kini berkerumun dengan betina-betina lain di ujung kandang sebelum tertunduk kembali.

Saya pun ngga bisa untuk ngga tertegun menatap ekspresi jujur di hadapan saya. Tapi itu real sekali dari seekor monyet. Saya memang termasuk yang kurang yakin akan kebenaran theori Darwin, tapi ngga bisa mengelak juga dengan bukti empiris bahwa monyet mempunyai volume otak cukup besar. Sampai saya menebak dan merangkaikan bahasa romance yang menurut saya luar biasa tersaji begitu saja di hadapan saya sebagai anugerah.

Tentu saja, biar saya dedikasikan karya ini untuk 'para monyet' sajalah...



(WARNING: Original story by Sigit Ariansyah for International Short Film Festival)


Read more ...
20 Desember 2007

26 Desember Itu...


Dibalik Cerita
26 Desember 2004. Bangun tidur lalu nonton TV, kaget karena semua channel dipenuhi berita tentang terjadinya tsunami. "Ada apa..? Tsunami..! Di mana..?" tapi pertanyaan-pertanyaan akibat melek belum sempurna itu gak berlangsung lama. Saya segera paham telah terjadi bencana dahsyat di Aceh, gempa dan tsunami. Tapi....?

Merinding saya menyaksikan video kiriman yang diputar di sana. Percaya atau tidak, air mata saya benar-benar meleleh sebelum saya sadari sendiri. Hampir seharian saya duduk di depan TV mengikuti setiap perkembangan dengan isi kepala berkecamuk. Aceh, saya punya banyak sekali sahabat di sana. Bersamaan dengan itu, dari TV yang sama, lamat-lama saya mendengar lagu "Dari Sabang Sampai Merauke" diputar.

Tiba-tiba saya berpikir, entah gimana awalnya; "Apakah saudara-saudara di Papua sana sekarang juga nonton TV dan menangis sedih seperti saya ya...?" Mengingat, sahabat saya yang tinggal di sana pun nggak sedikit.

Nggak sabar menunggu jawaban, saya SMS beberapa teman di Papua tentang pertanyaan ganjil saya itu. Ada yang menjawab "Ya Iya laah...!". Yang lain membalas, "Hanya orang sakit jiwa kali, yang nggak ikut sedih...!"

Entah kenapa, tiba-tiba saya merasa seperti menemukan sesuatu yang baru dari Tuhan. Bahwa seandainya setiap orang di dunia ini menanggalkan segala atribut pribadinya seperti bendera, ras, suku, agama, club sepakbola, dan sebagainya, maka sesungguhnya seluruh manusia sudah dipersatukan oleh rasa, tanpa perlu kampanye apalagi maksa.

Dari situ, jadilah "DESEMBER'26" beberapa lembar screenplay yang kemudian kami produksi dengan perjuangan luar biasa untuk menjadikannya sebuah film. Harapan besar kami, semoga semua itu bermanfaat untuk dunia, untuk Indonesia, dari Sabang sampai Merauke...


Cerita
Dibalik
Mustahil mengeksekusi ide awal yang ada set
ting Papua. Titik. Yup! Emang dananya dari Hongkong...( kok, kenapa nggak Jakarta aja sih? Hehe..). Maka mengulik cerita harus dilakukan. Jadilah Jogja dan dinamika para mahasiswanya menjadi setting utama, dengan focus point pada mahasiswa asal Papua di sana. Anak muda dengan berbagai ciri jiwa mudanya menjadi pilihan kami untuk merangakai plot cerita menjadi lebih dinamis namun tetap natural.

Siang-malam selama tiga minggu kami habiskan untuk persiapan, casting, reading dan rehearsal. Kami lebur bersama lebih dari 80 orang pemain dari berbagai suku, ras, agama dan profesi termasuk kelompok-kelompok dancer yang luar biasa itu. Kerjasama yang sangat indah, menurut saya.

Besok pagi shooting, schedule sudah tersusun rapi. Tiba-tiba ada beberapa teman dari Papua yang datang sekitar jam 4 sore. Mereka sedikit mengkomplain beberapa bagian dalam content naskah. Mereka cukup terbuka, menurut saya. Kami pun berdiskusi berjam-jam. Cukup melelahkan tapi terasa asyik dan ilmiah. Finally, saya setuju untuk merubah beberapa point di dalam naskah itu sebelum shooting.

Lagi, malam itu saya berkutat dengan screenplay, membolak-balik cerita dan dialog. Belum lagi astrada yang juga kembali pusing harus bergumul lagi dengan shooting schedule yang otomatis jadi berubah total.

Sampai pagi, dan kami shooting sebelum tidur...

________________________

Judul : DESEMBER'26

Genre : Drama-tragedy-humanity
Production : Xcode & Zerosith
Writer & Director : Sigit Ariansyah

_______________________________
For more detail please visit
http://desember26film.blogspot.com


DESEMBER'26 TRAILER

Simply inspired by the Indonesian national song "Dari Sabang Sampai Merauke", It's a short film about union and humanity, smartly used Aceh Tsunami 2004 ago as the simple story background in a difference point of view from Papua students.

Read more ...
12 Agustus 2007

Jazz, Film dan Anak Jalanan

Malam itu di sebuah café, saya punya kesempatan duduk dan ngobrol panjang lebar dengan pianis Jazz terkenal asal Kanada, Ron Davis dan istrinya yang juga jazzer. Baru malam kemaren mereka memukau puluhan penggemar Jazz di Jogja setelah Bali, Jakarta dan kota-kota besar dunia lain dalam rangka tour dunianya. Yah, cukup soal dia... siapa sih yang nggak tau dan mengakui kehebatan dia. Tapi saya juga baru tau malam itu bahwa dia ternyata seorang filmmaniac juga. Meski saya juga gak lupa mempertegas bahwa I’m not a kind of the Indonesian famous director. Saya hanya sutradara kakilima, hehe…

Dari memperbincangkan Jazz yang membuat saya jadi merasa sok tau tentang jazz sampai ke film, entah kenapa Ron begitu antusias dan terus mengejar saya, setelah saya menjawab pertanyaan istrinya bahwa film yang sedang saya kerjakan adalah sebuah documenter tentang anak jalanan, yang rencananya akan kami jadikan sebuah feature film jika ada sponsor. Dia mengintograsi saya seperti detektif, lalu diam melongo seperti anak TK saat saya bercerita atau mengutarakan pendapat.

”Oh my God...! it looks like CITY OF GOD, the Brazillian Film. I llloove that movie. It’s a real, it’s a life…” katanya nyerocos membuat saya yang gentian bengong. Tapi saya suka, meskipun agak kaget. Karena saya juga llloooove sama film yang satu itu. Dari situ kami tenggelam dalam sebuah perbincangan tentang hidup, kehidupan dan apa saja, yang jelas kami menjadi sama-sama lupa diri...

Well, Ada sebuah anggapan umum, bahwa pindah dan tinggal di kota besar adalah satu-satunya cara untuk maju dan berkembang. Hegemoni pendapat itu kemudian menjadikan kota seperti sependar cahaya terang yang menjadikan kaum urban kemudian berbondong-bondong memenuhi sudut-sudut kota. Ternyata tidak semua bisa meraih impiannya di sana. Ada yang terpuruk, banyak yang putus asa.

Yang menggelisahkan adalah anak-anak dibawah umur yang terpaksa berada di jalan dengan berbagai alasan. Jadilah mereka kemudian ramai-ramai kita sebut sebagai anak jalanan. Ya, dalam benak kebanyakan orang terselip sebuah tuduhan yang tidak terucap bahwa mereka seperti komunitas kiri yang meresahkan.

Meresahkan? Tergantung, dari sudut pandang mana kita melihat. Jika kita hanya mengintip dengan sebelah mata atau melirik saja, itu bisa diterima. Tapi sebelah mata saja bukanlah representasi cara pandang yang akurat.

Sesaat kami datang dengan sekeranjang nasi bungkus untuk menu buka puasa, saat itu pula nasi-nasi itu ludes dan mereka makan dengan lahap. Saya menangkap sorot mata anak-anak usia sekolah itu datar, sangat datar sampe-sampe saya nggak bisa memahami apa artinya dan untuk apa sorot pandang seperti itu. Bahkan ke siapa pun sorot mata mereka ya seperti itu, sama.

Agus 12 tahun, berasal dari Bandung. Dia pergi dari rumah dan hidup di jalan karena bapak/ibunya bertengkar melulu. Awalnya ia memang sedih harus di jalan. Tapi di sisi lain, justru membuat hatinya lebih merasa puas dan bahagia. Ia merasa berhasil berunjuk rasa kepada orang tuanya dan ia merasa jiwanya kini lebih bebas mau berbuat apa saja dan kapan saja.

Astri (bukan nama sebenarnya) 15 tahun, saya temui dia di sekitar gerbong rusak di Stasiun Lempuyangan Jogja. Wajahnya kuyu, pucat, kulit legam dan rambut memerah karena matahari. Matanya kosong seperti pasrah. Tidak seperti Agus yang malah mau menyanyikan lagu ciptaannya untuk saya, Astri menolak dan hampir melarikan diri saat tau saya datang dengan membawa kamera. Saya mengalah, saya teriakkan ke dia bahwa saya tidak akan men-shoot dia. Di depannya, kamera kembali saya masukkan ke dalam tas, dan berhasil. Setelah lama saya ngobrol dengan dia, lebih tepatnya saya yang banyak omong karena dia hanya menjawab rata-rata dengan satu kata, ada yang menarik perhatian saya. Perutnya membuncit. Pikiran saya langsung menebak, hamilkah? Dia tidak menjawab, tapi hanya mengangguk sambil tersenyum datar.

Sesaat saya bingung harus tersenyum juga dan mengucapkan selamat atau harus sedih dan prihatin untuk gadis 15 tahun di depan saya itu. Entah seperti apa ekspresi dan reaksi saya saat itu, yang jelas tiba-tiba meluncur sebuah pertanyaan basa-basi yang menurut saya standard.

”O... Sudah berapa bulan? Bapaknya ke mana nih? Lagi kerja ya...”

Tapi ternyata saya baru sadar bahwa itu pertanyaan menjadi sangat serius di sana dan saya gak siap menerima jawabannya. Astri memang gak langsung menjawab. Ia tersenyum lebih lebar dari yang sebelumnya sebelum berkata enteng:

”Bapaknya banyak, gak tau yang mana, ha ha...!”

Dhuenggg....!!! Saya semakin ga bisa mengontrol ekspresi dan emosi saya. Musti gimana saya harus bereaksi. Kalaupun harus berakting, saya gak punya pegangan direction yang jelas (katanya sutradara..?!). Bukankah seharusnya Astri sedih, stress, putus asa seperti umumnya orang kebanyakan? Tapi begitulah lingkungan sudah membentuk mereka.

Memang tidak semuanya memiliki kisah sama seperti Agus atau Astri. Ada yang terlalu dramatik karena kedua orang tuanya sudah meninggal, ada juga yang memang bersama-sama orang tuanya berada di jalan untuk hidup. Yang terakhir memang banyak menuai tuduhan miring dari sebagian masyarakat. Gimana nggak kesel? Udah macet, panas, stres mikir kerjaan, eh, malah ada yang nongol di jendela mobil minta duit...!?

”Seharusnya mereka usaha dong..!” begitu bunyi protes kita biasanya. Well, setelah saya ikut hidup beberapa hari bersama mereka, saya sempat merasakan betapa mereka tidak punya pilihan. Seperti juga mereka harus hidup keras agar tetap bisa bertahan dan tidak menjadi bulan-bulanan anak lain di gank. Suka tau tidak, tanpa mereka sadari mental mereka akan terbentuk dengan pasti. Namanya juga anak-anak.

Memang pemerintah melalui Dinas Sosial telah membuat program-program seperti mendukung Rumah Singgah untuk menampung mereka. Dari perbincangan saya baik dengan Dinas Sosial maupun Rumah Singgah, ada kecenderungan bahwa anak-anak itu merasa bosan tinggal di sana, mereka lebih memilih di jalanan. DinSos bilang, padahal dana yang kami alokasikan untuk ini besar sekali. Rumah Singgah dan LSM bilang, dana dari pemerintah seret, jadi kami harus pontang-panting cari tambahan sendiri. Ah, tau ah.. lupakan saja, itu selalu terjadi di sini, dan akan selalu...

Saya merasa anak-anak itu mau gak mau akan terbentuk menjadi sosok-sosok yang keras, egois dan spontan. Saya khawatir ini seperti bom waktu yang pada saatnya nanti akan meledak dan berubah menjadi kriminal dalam skala besar di seluruh Indonesia. Kemungkinan itu pasti ada. Sialnya, merekalah yang akan berdampingan dengan anak-cucu kita kelak dalam menjalankan roda Negeri yang masyarakatnya terkenal sopan, arif dan bijaksana ini.

So, masih berani cuek..?!

Dan malam itu, Ron menyodorkan dua lembar kartu nama. Satu miliknya, yang satu lagi milik sahabatnya seorang kurator film di Toronto Film Festival.

”He is my best friend,” katanya. “Please, we’ll be wait your film in Toronto Film Festival. We always be there for such kind of great movie. You have to finish it.. you have to do it..!”

Lagi-lagi saya bengong. Paling tidak saya musti shoot dengan 16 mm untuk bisa ke sana. Lha dananya dari mannna..?! Tapi fine, saya belum menyerah. Siapapun yang membaca artikel ini, saya mohon ketulusan doanya ya......

Read more ...
06 Agustus 2007

Enjoy The Process


Process is the process, result is the other thing caused by the process. Eventhough, I like to remember the process I've done before separately, even it's bad pr ocess....

I'm Sigit Ariansyah, soPoster_ltb_4me peoples know me as Film Director, some others trust me as animator, video editor, art director or graphic designer. I know it's nothing exactly a big result I can reach, but actually I enjoyed every process so much. I learned from everybody and everything in every process.

After long journey, lot of my best friends, partners and clients suggest me to be focus on only one thing. You know, it's not easy for me to leave soCuplikan_scene_2me thing that you go with it in a long time.

Finally I choose to be more seriously focus on directing and writing, whether it's for Film, TV Commercials, video profile, video music, 3D animation etc. I understand this choice also not a kind of easy way to do, but I'll always to do my best, for the best result.

Thanks God, one of my feature film with USAID-LGSP 'Lubang Tak Berujung (LTB) ' becomes an official selection film in Warsawa Harm Reduction International Film Festival. It's a big reaching for me, but I hope it's not a bigger yet.

'LTB' was a film that I proud of. We have only a week to finish this anti corruption film. This is not easy enough to say 'yes' in that time... but me and my friend Donny Prasetyo, the best script writer I know, did very hard for corrections and changes from the client and producers Viko Amanda and Agus SP, day and nite about one week. We work hard enough, so I think we have to go on...

Again, I have to thanks God for giving me the best friends in the production team, like the DOP, Fauzy 'Ujel' Bausad who gives me his best result for every picture I need, Arif Rakhman, the first AD, he works so hard with the schedules, script and talents in every scenes, Andy jahyadi the Art Director and Triyanto Genthong as sound director also did their best from beginning and Ulin Yahya as the acting coach, gives me the best result for the talent attitude I need.

All talents and extras; Maria Silva, Satria Risky, Memet Jantan, Noor WA, Watiek Wibowo, Anca Ogel, Djohan, Sarah Naistra etc.. are very talented actors and actress. I love to work with them. They play hard with their characters scene by scene, frame by frame. Mentally, I know they could be professional players..

The whole team in every department professionally worked hard, we all did our best until we proudly launch the film in Jogjakarta, shown on 20 TV stations and International Film Festival.

Today, I feel that all memories as something beautiful behind the hard scenes....

And me now? still goin' on a better process...



Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

follow