Jika tidak sedang menonton, anda pasti sedang ditonton. Sebab drama adalah anda, saya dan secuil ruang dunia yang sedang kita bagi ini....
Tampilkan postingan dengan label SPIRITUAL MOMENT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPIRITUAL MOMENT. Tampilkan semua postingan
28 April 2013

Definisi Cerdas

Seorang teman, wanita cantik, jomblo, datang bersama kenalan barunya. Lalu dengan menggebu-gebu ia mengenalkan teman lelakinya itu kepada saya. "Kenalin mas ini temenku, sebut saja 'Bunga'..." eh, jangan ding, dia cowok. "Mmm... Sebut saja 'Batang'. Dia nih orangnya cerdas lho mas..."

"Hei, hallo... Wow.. Beruntung sekali kamu," ucap saya ikut bangga sekaligus penasaran.

Kebetulan, si cowok lalu permisi ke toilet. Maka saya manfaatkan kesempatan itu untuk memenuhi rasa penasaran dengan mengorek teman saya. "Heh, tadi kamu bilang dia cerdas kan..? Wahh.. pasti dia seorang penemu rumus atau pembuat pesawat gitu ya...?" tebak saya tak kalah menggebu.

Temen saya cuma meringis. "Halah, bukan gitu mas.. Dia itu PNS di Departemen Per****(sensor). Aku bilang cerdas, karena meski tiap hari kerja di kantor pemerintahan, tapi dia masih bisa menambah income di luar gaji lumayan banyak lho... Punya mobil, baru beli rumah juga... "

"Oh..." agak kendor rasa penasaran saya. "Hebat! Emangnya dia punya bisnis di luar gitu?"

"Yaah.. Biasa makelaran mobil dan tanah mas... Itu belum termasuk kalo ada pengusaha yang pengen dapet tender dari kantornya. Waah bisa lebih gede lagi dapetnya.. Pinter kan mas...?"

Serta-merta saya nyeruput teh hangat, menyalakan rokok lalu diam terpaku menatap langit-langit... (saya akui yang ini lebay... :D).

Baiklah, cukup cerita singkat di atas sebagai intro. Lupakan berapa lama si kenalan baru cerdas itu berada di toilet. Saya tidak sedang membahas KKN atau birokrasi pemerintahan kita yang memang sudah uassu sejak dulu. Saya hanya kepikiran tentang definisi 'cerdas' menurut si cantik jomblo itu yang agak mengganggu tidur saya.

Suka atau tidak, definisi itulah yang paling banyak dianut masyarakat kita. Kita banyak mendengar orang tua menyebut anaknya pintar dan berbakti ketika ia mampu mengembalikan utang yang dulu dipakai nyogok saat mendaftar sebagai pegawai kecamatan, misalnya. Malahan banyak juga orang tua yang memuji kepintaran anaknya belanja handphone atau sepatu palsu lalu dijual lagi dengan harga 10 kali lipat. Weleh.. Itu mah bukan usaha pook... Itu penipuan kalee... :D

Ya, jumlah income atau keuntungan serta kuantitas kepemilikan masih menjadi barometer 'kepintaran' dalam masyarakat kita. Kalau diteorikan lalu dibukukan, mungkin paling pas masyarakat kita ini bisa disebut: Materealistic-nepotistic-opportunistic-religious society. (Halahh opo maneeh iki... :D)

Nah, karena soal definisi 'cerdas' ini lumayan mengganggu tidur saya, maka mulailah saya melakukan riset (ciee..). Tapi apa yang terjadi saudara-saudara? Baru membaca satu versi definisi 'cerdas' yang tidak lebih dari empat baris saja saya makin mumet. Coba saja anda search sendiri di google, akan ada ribuan definisi kata 'cerdas' yang berbeda-beda dan cukup teoritis.

Kita cuplik aja deh, salah satunya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi kecerdasan adalah: [a] (1) sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dsb); tajam pikiran: sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi orang yg -- lagi baik budi; (2) sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat, kuat): biarpun kecil badannya, tidak kurang --

Hmmm... sangat ruwet bukan? Definisi di atas cukup membuat saya berasa makin tidak cerdas. Hehe... Mungkin karena itulah dulu saya agak kurang suka duduk belajar di dalam kelas. Teori-teori itu tidak mampu secara otomatis membuat saya merasakan lalu mengerti, tapi ia memaksa anak kecil seperti saya menghapalnya lalu membanggakan diri di depan guru.

Maksud saya, bahwa bisa menjawab pertanyaan di manakah Ibukota Ukraina? Atau siapakah presiden Czech Republic? Dan sejenisnya, belum berarti anda seorang yang cerdas. Membaca ratusan buku, itu baru membuat anda tahu, belum tentu cerdas apalagi genius.

Sebaliknya, pernahkan anda membayangkan Albert Einstein menganyam janur untuk membuat ketupat lebaran? Nah, kalaupun Eintein hanya akan jadi bahan tertawaan ibu-ibu yang jago membuat ketupat, bukan berarti Einstein tidak cerdas tho..?

Sementara teori lainnya lebih fokus pada logika. Seseorang (saya lupa) mengungkapkan, selama anda mampu memahami suatu objek pemikiran dan itu sinkron dengan logika umum, berarti anda cerdas. Karena itu kemudian ada pengelompokan level IQ (Intelligence Quotient). Sebagaimana kita tahu, metode tes yang pertama kali digagas pada 1904 oleh psikolog Prancis Alfred Binet ini akhirnya mendunia dan dipakai menentukan level IQ seseorang hingga sekarang. Tapi itu pun masih menyisakan kontroversi tentang keakuratan metode tersebut.

Tunggu dulu. Saya jadi bertanya-tanya, jika sedemikian hebatnya logika kita hingga menjadi patokan sebuah kebenaran dan fakta, mengapa pada abad pertengahan logika semua orang menganggap bumi ini datar dan menjadi pusat peredaran matahari? Bahkan pada tahun Seribu Limaratusan mereka (gereja) harus membunuh Nicolaus Copernicus karena teorinya yang mengatakan sebaliknya, bahwa mataharilah yang menjadi pusat tata surya. Bukankah itu kesalahan massal logika manusia?

Jika begitu, apa yang tampak logis belum tentu sebuah kebenaran. Jika kita mengatakan sesuatu itu tidak logis, itu adalah bahasa kita. Saya menyebutnya logika bumi. Bahasa yang benar adalah logika kita yang belum menjangakaunya. Hanya Logika Langit yang bisa menjangkaunya. Bukankah masih ada partikel yang lebih kecil daripada atom bahkan lebih kecil lagi, yang belum bisa dijangkau para ilmuwan?

Cukuplah kita mengetahui bahwa IQ diatas 140 disebut genius, dibawah 30 disebut idiot, sebagai alat yang bagus untuk bahan olok-olokan. Di sinilah pangkal mulanya saya kepikiran untuk menulis ini.

Beberapa waktu lalu saya melihat sekumpulan anak kecil yang sedang menertawakan dan menggoda orang dewasa yang kebetulan (maaf) gagu, sulit berbicara. Dari semua anak itu, saya perhatikan hanya ada dua anak yang tidak tertawa, bahkan menarik diri menghindar dari teman-temannya. Spontan saya berpikir, mungkin inilah jawabannya. Mungkin dua anak itulah yang memiliki kecerdasan lebih dibanding anak lainnya.

Ya, karena saya meyakini kecerdasan itu erat hubungannya dengan kalbu, mata hati. Hati bukan dalam bahasa kedokteran yang berarti liver, tapi Heart Brain atau Cardiac Ganglia menurut bahasa Neuro Science. Sebenarnya itu adalah jawaban dari pertanyaan panjang saya tentang sebuah ayat Al-Qur'an yang tidak sengaja saya baca beberapa tahun lalu, tapi saya kurang bisa memahami.

Ayat tersebut berbunyi: ".. Mereka mempunyai hati (kalbu) tapi tidak dipergunakan untuk berfikir..." (Al-A'raf:179)

"Lohh..!? Hati kok dipake buat mikir?" Tanya saya waktu itu. Setelah cukup lama saya penasaran, subhanallah lagi-lagi secara tidak sengaja dipertemukan dengan sebuah artikel pendek dari DR. Arifin Mufti. Dari situ saya dapat jawaban paling memuaskan dari sisi Neuro Science. Ternyata jantung kita memiliki Otak, sebagian ilmuwan menyebutnya Heart Brain atau Cardiac Ganglia.

DR. Arifin Mufti menulis, Heart Brain ini bertugas mengelola, mengatur, dan mengendalikan semua informasi dalam bentuk rasa yang tidak terstruktur (emosi, rasa, intuisi, ilham, (keyakinan) iman dan rasa takut kepada Tuhan atau takwa). Dalam bentuk fisik - minimal 40.000 sel syaraf (neuron) diatas jantung (dinding), seperti cendawan berserabut (dari gambar dasar biru terlihat seperti noktah putih), banyak "bulu halus“ – berfungsi sebagai radar atau transmitter yang dapat menerima dan memancarkan sinyal radio dibawah frekensi 40 Hzt.

Secara fungsi, Heart Brain ini juga tandem dari otak depan dalam mengolah berbagai informasi yang mempengaruhi tindakan manusia. Dan itu sudah eksplisit tertulis dalam Kitab Mulia sejak 1400 tahun yang lalu. InsyaAllah nanti akan saya post secara khusus pembahasan ini di blog ini.

Maka bagi saya jelas, kecerdasan berarti sinkron antara nurani dan logika. So, mulai sekarang hati-hati kalo mau ngatain orang dengan kalimat "Pakai Otak dong....!" Hehe...

Wallaahu a'lamu bisshawab, hanya Allah yang Maha Tahu segala kebenarannya...
Read more ...
01 September 2011

Dari Hilal Sampai Toleransi



"Jujur, lama-lama agak jengah juga dengan perbedaan penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawwal ini," seorang teman berkomentar berapi-api. "Sudah bertahun-tahun kok masih saja gagal menyamakan persepsi," lanjutnya kali ini ada ekspresi  sinis sekaligus pasrah. 

Begitulah 1 Syawal tahun ini, 1432 Hijriyah bertepatan dengan 2011 Masehi masih juga tumpang-tindih alias nggak seragam. Saya memaklumi begitu hebohnya itu karena menyangkut lebaran setelah 1 bulan penuh berpuasa. Alasan lebih serius lagi karena 1 Syawal adalah hari di mana puasa diharamkan.

Biang keroknya adalah metode? Ya, memang ada yang menggunakan Ru'yatul hilal, ada yang lebih suka dengan metode Hisab bahkan ada yang sekedar mengamati grafitasi bulan yang terlihat dari pasangnya air laut.

Definisi "Hilal" dalam ilmu falak merupakan pemunculan bulan paling awal (berbentuk sabit) di ufuk barat yang tampak menghadap bumi setelah mengalami konjungsi atau ijtimak. Konjungsi adalah peristiwa di mana matahari dan bulan berada segaris di bidang ekliptika yang sama. 

Nah, singkatnya, Penampakan "hilal" itulah yang menandai pergantian bulan yang berarti masuknya awal bulan baru dalam system kalender qamariyah.

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: “Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji…” [Al Baqoroh(2):189]

Sedangkan "hisab" secara harfiyah berarti 'perhitungan', adalah metode perhitungan matematik astronomi untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi penentuan matahari menjadi penting karena umat Islam untuk ibadah shalatnya menggunakan posisi matahari sebagai patokan waktu shalat.

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” [Yunus(10):5]

“Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.” [ArRahmaan(55):5]

So, metode mana yang paling benar? 

Ya jalas, menurut saya semuanya benar dong..! Islam adalah agama yang sangat mengakomodir proses ilmiah dan alamiah dalam berbagai hal. Penentuan bulan hanyalah salah satu contoh kasus saja,

Kalo gitu kenapa berbeda? Bukankah setiap proses dalam metodologi ilmiah yang detil dan rumit  akan selalu menyisakan perbedaan-perbedaan kecil? Nahh.. menurut saya, untuk itulah Islam masih menyediakan "post" setelahnya yaitu apa yang dikenal dengan "Ijma'" atau kesepakatan ulama dan "Ulil Amri" atau pemerintah. Dua-duanya bersifat domestic untuk masing-masing wilayah. Dan jelas Islam juga mewajibkan kita mematuhi pemerintah (Wa athii'uu Ulil Amri minkum……).
Untuk penentuan akhir setelah kedua "post" di atas, Islam masih menyediakan satu lagi "final post" yaitu "keyakinan". Ya, beragama adalah soal keyakinan, soal iman.
Nahh… Masalahnya di Indonesia ini antara pemerintah dan ulama' yang jumlahnya buaanyak itu nggak akur juga. Tambah runyam  lagi, masing-masing ormas punya ulama'nya sendiri-sendiri yang memang cukup kokoh.

Jadilah lagu lama yang meski sudah kusut diputar lagi setiap tahun. Situasi yang sangat tidak sedap dirasakan. Mereka yang seharusnya berbeda secara ilmiah menjadi seperti adu legitimasi di mata ummat masing-masing. Dari persoalan ilmiah menjadi masalah kredibilitas, wibawa, image dan sejenisnya. Sungguh, sama sekali tidak dewasa dan ini serius.

Yang lebih lucu lagi, 1 Syawalnya ribut-ribut berbeda, eee.. tau-tau kelak tanggal 17 atau 20 Syawalnya sama. Bisa juga 10 Dzulhijjah (Idul Adha) dan 9 Dzulhijjah (Wukuf Haji di Arafah) sama semua, ga ada yang ribut..??!

"Perbedaan adalah Rahmat". Yes absolutely! Tapi mari mencoba berbeda dengan elegan.dan cerdas. Bertoleransi dengan menghormati yang tak sependapat dengan kita, itu harus. Belajarlah untuk tidak menggerutu sinis terhadap kelompok lain yang berbeda, tapi di saat yang sama mulut Anda dengan manis bicara toleransi dan saling menghormati…???

Akhirnya, perbedaan itu memang akan selalu ada. Tapi saya (pribadi) masih berpendapat bahwa tidak mustahil perbedaan itu kita satukan untuk menghasilkan kesepakatan dengan syarat; Ulama' dan Umara' (pemerintah) yang bersih, yang BISA DIPERCAYA..! (Bold-italic-underlined).
Read more ...
01 Juni 2009

Perfect

di dunia ini...

jika tak seorang pun
terbebas dari penyakit,
kenapa kita begitu panik
saat menemukan hanya satu
atau dua rasa sakit dalam diri?

jika tak seorang pun
tak memiliki kejelekan,
kenapa harus malu
saat menyadari dua
atau tiga kejelekan dalam diri?

jika tak seorang pun
tak pernah melakukan kesalahan,
kenapa harus bohong
saat merasakan tiga
atau empat rasa bersalah dalam diri?

Subhanallah...
terimakasih telah menganugerahkan
untukku satu lagi inspirasi sempurnaMu
malam ini...
Read more ...
02 September 2008

Kembali Ramadhan....

Seperti tersedot, aku justru menjadi masa kecilku jauh di Makasar, kali ini.
Tersendat, tercekat luluh untuk pertama kalinya setelah sekian tahun hampir terlupakan.
Suara-suara itu melantun secara apa adanya, secara kampungan dari corong masjid yang juga sudah lama tak lagi menggeletar di gendang telingaku.

Suara-suara dalam dan indah itu yang dulu menggandeng tanganku, membimbing hatiku tiap kali Ramadhan menjelang.
Hiruk dalam sepi, sejuk dalam kering diri seorang laki-laki kecil yang tak pernah merasa memiliki maupun dimiliki oleh siapapun.
Laki-laki kecil sombong keras-kepala, yang kelak akan jatuh bangun dalam sujud-sujud pemikirannya sendiri, membangun mimpi-mimpinya hanya berdua dengan Penciptanya, lalu membuktikan sedikit senyum sebelum kembali tertunduk dalam tangis, pada Ilahnya..

dan malam ini, masih seperti malam-malam kemarin, kembali membisikkan sesuatu yang sama di hati ini. "Tak banyak yang mengerti engkau wahai laki-laki kecil, tak banyak yang sanggup memahami mimpi terlampau besar-mu. Tapi tetaplah tegap dan bersyukur menjadi dirimu sendiri, seperti biasanya...

Marhaban Yaa Ramadhan..
suara tarhim itu kembali membasahi rongga ini, meski hari-hari penuh berkah itu tak lagi seindah dulu, ketika aku bisa benar-benar hanya berdua dengan Ilah-ku....
Read more ...
08 Agustus 2008

Menjadi Bahagia

Hmm... sesungguhnyalah itu sekelumit bahasa yang sama sekali tidak lagi indah. Menjadi begitu karena semua orang mengucapkan dan berlari untuknya begiiitu-begituuu saja
Lalu ungkapan sedih, gelisah, adalah horor siang maupun malam yang panjang dan sepertinya akan terus berkepanjangan, semua orang terbirit-birit lari darinya, pun begiiitu-begitu saja.
Sungguh! Maha Bijaksana Allah yang secara ilmiah telah mendisain hormon yang mampu menggerakkan urat-urat ketawa sekaligus melengkapinya dengan hormon lain yang bekerja memproduksi sebuah cairan yang kelak, orang bule menyebutnya ’tears’ sedang saya dan orang Indonesia lainnya menamainya ’air mata’, hanya beda tipis dengan sebutan kami untuk apa yang para bule bilang ’sperm’. (pikirin sendiri dah...). Itu pun menimbulkan kebahagiaan luar biasa meski Cuma sesaat.
Ada yang menerima kebahagiaan dalam salah satu episode hidupnya, iapun membaginya dengan orang lain, biasanya dengan cara memberi sedekah bagi yang kurang mampu atau sekedar berpesta pora dengan kawan-kawan dekat.
Jaman kapitalism ini, biasanya kebahagian secara awam diterjemahkan dengan angka-angka. Maka menerima gaji atau fee adalah kebahagiaan yang selalu ditunggu-tunggu, meski cuma sesaat. Saya bilang sesaat, karena tagihan gaya hidup sebulan ke belakang biasanya sudah melewati ambang batas.
Sedang bahasa yang paling populer untuk menerka seseorang adalah ’sukses’. Indikasi yang disepakati cukup kasat mata, yakni mobil mewah keluaran terbaru, berlibur ke luar negeri atau mampu nraktir beberapa kawan di restoran mahal. So, pujian dan asumsi ’sukses’ versi awam itulah yang membuat dada meledak-ledak karena bahagia, kepala pun makin membesar.
Tantangannya adalah, ”masih mau bahagia?”
Jawabannya “Ya iya laah...”.
Caranya? Bisa dengan menangis maupun ketawa. Dan untuk kebahagiaan itu, seringkali kita harus membuat orang lain menangis atau ketawa.
Ada saran? Not really...! Tapi buat saya pribadi, bisa mencintai dan dicintai adalah anugerah luar biasa. Meski untuk itu pun masih juga harus menangis dan membuat tangis.
Di atas semuanya, meski berat, sejujurnya saya merindukan menjadi makhluk yang selalu patuh pada hati atas semua perintah-Nya, dengan sepenuh cinta. Yakin, di sinilah bahagia sesungguhnya itu bersemayam, di dada ini!
Namun apa, sampai hari ini pun saya bukanlah siapa-siapa....
Read more ...
23 Desember 2007

My First Love That Never End


Wanita indah itu…

Di mata kecilku, ia teramat cantik, lembut, anggun dan cerdas. Rambut hitamnya yang panjang terbalut senyum manis itu terasa begiiitu menyejukkan. It's true...!

Sejujurnya, semua itu memaksaku mengakui simbol kesetiaan yang tertanam dalam-dalam di pangkal lubuk hatinya. Dia begitu karena dia cerdas...

Lembut belaiannya belum pernah pudar meski harus tersakiti oleh kerasnya ego-ku. Kesetiaannya tidak sedikitpun terbelotkan oleh pengkhianatanku. Kesabarannya adalah kasih sayang tanpa pamrih yang cukup teruji. Karena ia wanita yang tahu betul bahwa cintanya adalah hati yang tak pernah mungkin tergadai oleh berapa metric-Ton pun emas murni.

Ada saat aku harus pergi sebagai lelaki yang musti menantang kerasnya dunia. Kutinggalkan dia dalam sepi jiwanya bahkan sempat kulupakan ia begitu saja, diantara hiruk-pikuk keinginan-keinginan dunia dan kendali kapitalisme yang mulai bernafsu menghambakanku.

Namun apa? Aku kembali dan mendapati jiwa dan cinta itu masih utuh, tulus. Sepasang mata itu tetap jernih menelanjangiku seperti dulu. Utuh, tanpa cacat...!

Ada malam ketika sepi membekukan ego ini. Ego yang sama, saat berpuluh tahun lalu teriak-tangisku membuatnya kelabakan ketika ia seharusnya nyaman dalam mimpi indahnya. Namun ia tetap lembut menghiburku, membelai jiwa ini dengan caranya yang tak akan pernah bisa ku lupakan sampai hari ini.

Sampai detik ini, di mana justru jiwa lelakiku lah yang bisa membuatku kembali menangis untuknya. Dalam sepi, sendiri…

Wanita indah itu....

Selamat malam Ibu... Apa kabarmu di sana?
Demi Allah aku saaangat merindukanmu, Aku saaangat menginginkan kebahagiakan untukmu, meski aku tidak pernah berani mengatakan akan membalas cinta terbaikmu. Karena aku tahu, aku tidak akan pernah sanggup untuk itu...

Bahkan begitupun sampai detik ini aku masih juga merepotkanmu dalam malam-malam Tahajjudmu. Engkau paham betul, aku tidak akan bisa melanjutkan langkah ini tanpa restu dan doamu.
Masih juga aku memohon, Ibu harus terus ada untukku. Please…

Ibu... dari titik terendah ego seorang laki-laki, harus jujur kukatakan bahwa You are my first love that never end...  dengan maupun tanpa HARI IBU….




Read more ...
24 Oktober 2007

Lebur..Lebar..Libur..Lebaran...


Tiga minggu menjelang lebaran kemaren.
Seorang Ustadz berkata. ”Alhamdulillah.. semoga Ramadhan tahun ini bisa me-lebur dosa-dosa kita dan segera kita sambut Idul Fitri dengan kebahagiaan atas lebar –nya semua kesalahan (dari terminologi Jawa, lebar berarti habis/selesai) dengan saling memaafkan”.

Dua minggu menjelang lebaran kemaren.
Seorang teman, karyawan menengah, mendatangi saya dengan muka cukup semrawut. Seperti yang anda duga, dia mengeluh atas jumlah THR yang ia terima dari bosnya ternyata jauh dari cukup untuk baju baru keluarganya, ongkos mudik, uang saku keponakan dan seterusnya...

Satu umpatan dari mulutnya yang justru hampir membatalkan sikap belasungkawa saya dan mengubahnya menjadi tawa ialah ketika dia berteriak ”Ini tehrr..lhaa..lhuu...!”

Satu minggu menjelang lebaran kemaren.
Seorang teman lain, juragan percetakan, saya temukan dalam kondisi sangat mengenaskan. Kepalanya yang mulai botak, kini bertambah uban pula. Segelas besar teh manis belum juga cukup menemani umpatan-umpatannya yang dikutip dari beraneka jenis bahasa itu. Semua itu karena ia wajib membayar THR kepada 12 orang karyawannya yang dia rasa sangat memberatkan.

Lagi-lagi saya dipaksa terbahak justru disaat saya mulai memasang ekspresi turut bersedih, ketika tiba-tiba mendengar umpatan terakhir Si Juragan; ”Orang-orang dapet THR (Tunjangan Hari Raya), Ee.. sayanya malah dapet Tendangan Hari Raya...!

Satu hari menjelang lebaran kemaren.
Si karyawan tampak kuereen dengan baju baru saat turun dari sebuah mobil kijang. Gak ada lagi wajah kusut yang kemaren saya kasihani. Istri dan anak-anaknya pun tampak begitu bahagia di dalam mobil.

Saya pun bertanya. ”Wah.. jadi mudik nih.. mobil baru..?”

”Iya doong.. biar mobil rental, yang penting kan di kampung bisa tampil gaya, hehe..,” jawabnya sebelum berpamitan lalu melesat menuju kampung halamannya.

Giliran Sang Juragan yang berpamitan dengan style sedikit lebih bossy juga dengan mobil kijang namun yang type keluaran lebih akhir. Padahal setahu saya selama ini dia hanya punya sebuah mobil kijang lama yang bodinya sudah agak keropos di sana-sini.

”Lho..! mobilnya ganti baru ya...,” tanya saya penasaran.

”Ini sih mobil rental... Masak, lebaran bawa mobil bututku itu? Gengsi dong, sama keluarga di kampung...,” jawab sang juragan, mmm... cukup elegan.

Bersalaman, mengucap selamat jalan, lalu bengong..! Itu saja yang saya alami sebelum akhirnya saya juga harus segera tenggelam dalam arus mudik yang menyesakkan dada....

Satu minggu setelah lebaran kemaren.
Kembali kami dipertemukan setelah arus balik. Hanya saja kali ini kami bertiga tidak banyak bicara, kecuali saling meminta maaf. Yang jelas kami semua makin jauh lebih kusut dari seminggu sebelum lebaran yang sangat kusut itu. Kata maaf itu menjadi terlalu mahal harganya di Negri ini...

Lha trus, Ustadznya?
Sayangnya, saya nggak ketemu beliau lagi..! Mungkin beliau saat itu lupa menambahkan dalam ceramahnya, bahwa di sini, setelah dosa-dosa itu lebur hingga lebar, masih ada libur wajib yang kadang terasa jauh lebih menguras energi daripada sebulan berpuasa itu sendiri...

Yahh..! Sekarang saatnya kembali kusut memikirkan hutang-hutang libur-lebaran itu biar juga segera lebur dan lebar....


Read more ...
20 September 2007

The Greatest Story of Love Ever...


Atmosfir Ramadhan tiba-tiba seperti membawa saya untuk sedikit merenung dari angle berbeda, sedikit lebih spiritual. Barangkali volume otak ini saja yang selama ini melulu berorientasi horizontal. Mungkin saya tidak perlu meminta maaf jika ada yang beranggapan tulisan ini tidak match dengan tema blog. Kalaupun harus minta maaf, ya saya minta maaf karena tidak meminta maaf. So, maaf ya...

Sebab saya sangat setuju dengan pendapat bahwa film dan kehidupan sebenarnya memiliki saling keterkaitan. Bicara film berarti bicara kehidupan beserta tetek-bengeknya termasuk sisi spiritual. Bicara problematika hidup adalah drama panjang sejarah kehidupan manusia yang datang silih berganti selama berabad-abad.

Well, berpuasa memang berat (untuk level saya). Sejak kecil, ketika saya bertanya kenapa harus berpuasa, semua orang menjawab dengan jawaban yang bagi pemahaman saya sangat manjanjikan tapi kadang justru sebaliknya, mendebarkan, seperti; biar dapat pahala banyak, biar masuk sorga atau biar tidak disiksa dan sejenisnya.

Barangkali itu benar! Tapi apakah hanya itu? Hanya ketakutan saja? Lalu di mana posisi rasa cinta dan syukur untuk Sang Pencipta Segala yang merupakan bagian amat penting dalam ritual ibadah kita?

Dulu saya pernah berpikir, jika perintah puasa hanya bertujuan sekedar membuat kita lemas karena lapar dan haus, mungkin sudah lama saya keluar dari agama saya dan barangkali memilih agama film saja. Nyatanya tidak demikian. Dengan puasa saya merasakan kesejukan luar biasa justru karena pernah mengalami kekeringan. Sejahat apa sih manusia yang nggak pernah berpikir untuk berhenti berbuat jahat lalu ingin bertobat?

Saya membayangkan, andai sekian detik saja Tuhan menghentikan suply oksigen untuk dunia, betapa megap-megapnya kita. Inilah yang membuat saya tidak pernah menemukan alasan untuk tidak mencintai Sang Penyuplai oksigen itu. Kalaupun harus berpuasa, kenapa tidak dengan alasan cinta saja? kenapa harus karena takut disiksa? Bukankah itu hanya akan menghentikan rasa cinta kita kepada-NYA dan seketika akan merubahnya menjadi rasa takut yang jelas tidak mungkin sama dan sebanding dengan ketulusan cinta. Bahkan yang sering kita rasakan justru hanya sebatas takut rejekinya seret. Hanya itu..!?

Itu sama saja pelajaran terpopuler yang telah membentuk mental kita sampai sekarang ”Berbaik-baiklah, nurutlah sama juraganmu biar disukai, lalu gajimu naik dan kamu cepat kaya”. Bukankah lebih sportif dan fair kalau nasehat itu berbunyi ”Bekerjalah yang giat dan bertanggung jawab, berkaryalah yang bagus agar kamu maju, perusahan tempat kamu bekerja juga maju dan kamu pun menjadi berarti sebagai karyawan”.

Whateva....

Tuhan mewajibkan puasa pun saya yakin dengan penuh kasih sayang untuk sebuah tujuan yang bermanfaat bagi kita dan jelas pada akhirnya untuk kita juga. Karena tanpa kita sembah atau kita patuhi perintah-NYA, Dia tetaplah menjadi Tuhan dan akan tetap berkuasa penuh atas dunia berikut tetek-bengeknya.

Saya teringat kegigihan seorang Rabi’ah al-Adawiyah, wanita sufi yang teramat saya kagumi kemurnian cintanya.

Suatu hari Rabi’ah membawa air ditangan kiri dan obor ditangan kanan “kemana engkau akan pergi Rabi’ah?” seseorang bertanya. “saya akan ke langit untuk membakar surga dan memadamkan api neraka. Agar keduanya tak menjadi alasan manusia menyembah Allah. Sekiranya Allah tak menjadikan surga sebagai pahala dan neraka sebagai siksa, masih adakah diantara manusia yang menyembah-Mu?”

Subhanallah...! Saya jadi berpikir, apakah Allah sampai harus menjanjikan surga dan mengancam dengan neraka sedemikian rupa untuk meraih pamor dari manusia yang notabene adalah karya cipta-Nya sendiri? Saya lebih yakin bahwa manusialah yang membutuhkan Allah, bukan stigma terbalik seperti yang menancap di pemahaman yang saya terima selama ini.

Sementara saya masih berkutat dengan puasa sambil gak berhenti ngebayangin kopi dan rokok, dengan gagah berani Rabi’ah al-Adawiyah berteriak menegadah ke langit:

"Tuhanku, kalau aku mengabdi kepadaMu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku ke neraka itu, dan besarkanlah tubuhku dalam neraka itu, sehingga tidak ada tempat lain di neraka itu bagi hamba-hambaMu yang lain. Kalau aku menyembahMu berharap mendapat surga, berikan surga itu kepada hamba-hambaMu yang lain sebab bagiku Engkau sudah cukup".

Begitu dahsyatnya Rabi’ah al-Adawiyah mencintai Tuhannya. It’s so touching, pure, sincerely love and exactly The Greatest Story of Love ever…


Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

follow