Jika tidak sedang menonton, anda pasti sedang ditonton. Sebab drama adalah anda, saya dan secuil ruang dunia yang sedang kita bagi ini....
09 April 2009

Ngopi bareng Sang Bandar


Malam ini saya kembali mendapat undangan ngopi tapi kali ini tidak seperti biasanya, bicara serius dengan segepok storyboard dan sederet angka, melainkan sebuah undangan launching sebuah café di Pondok Indah Mall.

Bandar Kopi, café yang kebetulan milik seorang teman dan partner saya itu membuat saya banyak diam dan berpikir.

Lhohh..kok..!?

Iya, sebab diantara sekian banyak café yang bermunculan di tanah air, hampir semuanya menggunakan trade-mark ’ala British, American atau ke-Itali-italian gitu deh.

Sebenarnya, diam dan berpikir saya itu bukannya tanpa sebab. Beberapa malam sebelumnya saya ditelfon kawan, seorang seniman gondrong-dekil. More/less dengan mantabnya berbunyi gini:

”Haloo bro, malam ini aku mengundang dirimu minum kopi kapitalis. Ada waktu gak?”

”Hahh? Kopi kapitalis itu opo?”, saya cekikikan tapi ekspresi bingung.

”Halah.. ngopi di café2 bule di mall itu lho, biar kayak para kapitalis, hahaha...”

Saya pun ngakak sejadi-jadinya. Beginilah bagian yang saya suka saat bergaul dengan sahabat2 seniman murni dari Jogja yang selalu siap dengan ide segar yang apa adanya.

Well, cerita di atas memang sederhana, tapi tema ’kopi kapitalis’ itu begitu menggelitik otak-hati ini dan sudah cukup untuk memaksa saya merenung, berimprovisasi lalu membatin, ”iyha..yhaa..!”

Kembali ke Bandar Kopi, ketika saya mengadakan sedikit diskusi nggak resmi dengan teman saya pemilik Bandar Kopi yang sejatinya juga seorang wanita pelukis yang cukup produktif itu, saya seperti mendapat pencerahan. Ternyata apa yang saya pikirkan sejak awal, justru itulah yang menjadi visi dan motivasi dia dalam mendirikan Bandar Kopi ini.

Dia bilang: kopi, kopi kita, tumbuh di tanah kita, oleh petani kita, lalu dibungkus merk dagang asing, dijual lagi ke kita di rumah kita dengan harga selangit. Tapi kita tetep bangga tiap kali nongkrong di sana dengan merasa keren dan stylish gitu.

Hmmm... saya melongo atau entahlah, kurang yakin dengan ekspresi saya saat itu. Tapi saya merasa semua itu benar dan begitulah faktanya. Itu sama aja cerita tentang calon presiden yang berjanji mensejahterakan indonesia, mengangkat harkat bangsa, membela rakyat kecil, eee... ternyata iklan kampanyenya disutradarai bule. Hehe... bukanya jealous lhoh, tapi ini juga ironi dan bisa ada di sini. Belum lagi iklan minuman dengan copy-writing yang terasa meremehkan saya: ”Bule aja doyann....!” Tiap kali iklan itu tayang saya jadi pengen ngomong: ” justru itu gue gak doyan!”

Ah, sudahlah...

Kembali ke Bandar Kopi, sejujurnya, dari tampilan set artisticnya, proses pembuatan, servis dan rasa kopi yang saya minum di sana, tidak ada yang kurang atau kalah dari cafe-cafe ngetop lainnya. Saya pikir tidak ada alasan untuk tidak mendukung at least mendoakan semangat kawan yang layak diacungi dua jempol ini, karena saya tahu, ini tidak mudah bersaing dengan brand-brand yang sudah establish di seluruh dunia itu.

Dengan mantab saya jabat tangan teman saya sang bandar dan saya bilang:
”Congrats mbak.. Semoga bisa mewakili harga diri bangsa ini, paling tidak mulai dari sisi Taste....!”

Amin...

Read more ...
12 Februari 2009

PARA PROTEKTOR, Finally....

Akhirnya…! Kali ini saya boleh sedikit berbangga dengan apa yang baru saja saya lahap di hadapan saya. Mau tau??

Sebuah KOMIK INDONESIAAAA…!!!

Ehm..ehmm..(serak). Ya, PARA PROTEKTOR memang sedang mencuri perhatian saya. Sama sekali bukan karena salah seorang kartunisnya kebetulan teman baik saya, tapi barangkali lebih disebabkan adanya imajinasi saya yang tiba-tiba merasa terpenuhi di sini. Bukan imajinasi muluk, tapi sekedar angan-angan manusia Indonesia asli yang kadang merindukan logika-lokal dalam memahami sebuah plot kehidupan.

Saya menyebutnya logika-religi yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat kita di samping logika antropologis yang tentu sewajarnya sudah kita pahami. Dan PARA PROTEKTOR menghadirkan hampir semua kelebihan-kelebihan Super Hero barat yang berteknologi namun tetap dengan logika Sabang sampai Merauke yang pas. Ini luar biasa! Saya bisa tetap mengalir tanpa banyak bertanya-tanya sinis dalam hati sebagaimana biasanya memahami paparan logika-Atheis yang kadang aneh. Artinya, komik ini masih melibatkan The Unseen Power tidak lain adalah Tuhan sebagai sumber satu-satunya semua kekuatan di dunia.

Sebut saja karakter Sang Guru dari Serikat Para Protektor. Dalam penangkapan saya, ia seorang bijak-alim-zuhud yang dekat dengan Tuhan. Pantas saja jika ia kemudian menerima ’Karomah’ berbagai kelebihan melebihi manusia biasa. Kegelisahannya akan berbagai kejahatan di Tanah Air mengilhaminya untuk membentuk serikat Para Protektor dengan merekrut beberapa anggota yang masing-masing punya supra talenta berbeda-beda seperti Matahari (latar belakang militer, asal Garut), Aura (Seorang Guru SD asli Papua), Elektro (Seorang Engineer jenius), dan Afiat (Perawat asal Aceh).

Dalam tugas mereka mendefinisikan yang Haq dan Bathil, mereka berhadapan langsung dengan kelompok PDD atau Persaudaraan Dalam Darah yang dikomandani oleh tokoh Manipulator yang juga cerdas tapi licik. Beranggotakan LAVA (Live Android for Vicious Armageddon), Kinetik (Rocker asal Medan), Veromona (Profesor biologi asal Manado), Shooter (tentara bayaran dari Ambon), Molekul (ahli nuklir asal Lampung), Sopran (bernama asli Siti Marlina, penyanyi dangdut asal Sidoarjo) dan Shadow (bernama asli a.k.a. Sukanto, si pemakan manusia dari Klaten).

Berbagai intrik, suspense dan sisi touchy tentus aja mengimbangi adegan-adegan laga yang tersaji apik dan berteknologi di komik keluaran Paracomics Publisher ini. Kalaupun harus mengkritisi atau sekedar masukan, menurut saya perlu sedikit definisi yang lebih detil dalam scenes-period, kapan kejadian plot ini berlangsung, past, present atau future. Hal itu tentu saja perlu untuk memenuhi detil pengejawantahan gambar baik logic setting maupun propping yang berlaku dalam setiap adegan.

Kembali ke imajinasi saya, membaca komik ini tiba-tiba saya kembali teringat Frank Miller, Robert Rodriguez dan Tarantino. Adrenalin ini tiba-tiba kembali naik perlahan untuk mewujudkan sesuatu yang dulu pernah meledak-ledak.

Ehmm...(serak lagi). Apapun itu mohon keikhlasan doanya saja ya...

InsyaAllah...

SAR, Jakarta 120209


Judul : Para Protektor | Supra Talenta Saga

Karya : Poempida Hidayatulloh, Irham, Koko Prabowo

Penerbit : Paracomics Publisher, Jakarta

Tahun : Cetakan pertama Januari 2009



Read more ...
17 September 2008

Rama, Shinta and Me...

Rama dan Shinta adalah dua ekor monyet yang sedang terlibat dalam sebuah pergulatan emosi bercinta. Emosi yang sewajar dan senormalnya musti dilalui oleh setiap makhluk yang mengaku hidup ciptaan Tuhan. Menjadi begitu, karena memang Tuhan pun menciptakan rasa cinta sebagai bagian dari hidup, seperi Dia menciptakan oksigen atau air.

Sebulan lalu Rama merasa perlu untuk menumpahkan apa yang dirasa tentang sekelumit ’beat’ cinta melalui degub dadanya kepada Shinta sang monyet betina.

Shinta (seperti tradisi aneh perempuan lain): ”Apa harus aku jawab sekarang?”
Rama (pun mengikuti tradisi aneh para pria dengan menahan diri): ”Ya kalau belum ada jawaban aku tunggu sampai kamu siap...”

Hanya itu, dan setelah sebulan berjalan Shinta semakin bingung. Karena seperti bathinnya saat itu, ia seharusnya bisa mendapat lebih dari sekedar Rama yang hanya seekor monyet liar. Meski hati kecilnya harus mengakui bahwa sejak awal hatinya pun punya rasa sayang untuk tipikal Rama. Tapi sebagai betina, ia pun musti ikut-ikutan tradisi bahwa perempuan sebisa mungkin harus mendapatkan si raja monyet biar masa depan hidupnya bahagia, berlimpah dengan buah-buahan segar yang bebas kapanpun ia mau petik. Paling tidak se-level di atas Rama pun it’s fine laah...

Selain menunggu sambil sedikit melempar rayuan dan godaan maut pada setiap jantan yang dijumpainya terutama sang raja, Shinta pun semakin bimbang. Kini lebih banyak lagi jantan yang harus ia pertimbangkan dan semuanya menunggu jawaban. Jika mau jujur, ia lebih cenderung ke Rama, meski masih ada sesuatu yang mengganjal tentangnya, entah apa itu. Tapi, lagi-lagi ia harus menerapkan tradisi aneh kaum betina bahwa kesungguhan Rama harus diuji terlebih dulu. Maka Shinta pun merasa perlu untuk berpura-pura.

Rama: Sudah lebih sebulan dan kamu belum bisa menetapkan hatimu untuk niat baikku?
Shinta: Tidakkah kamu tau bahwa betina memang harus begitu?
Rama: Maksudmu harus menggantung dan menjadikan jantan sebagai pilihan?
Shinta: Mungkin itu benar, tapi betina juga harus malu.
Rama: Malu itu harus! Tapi jangan samakan dengan gengsi...
Shinta: Maksudmu?
Rama: Kalau mengakui isi hatimu saja kamu begiitu sombong, bagaimana kelak kamu harus merendahkan diri dengan menyayangi aku dan anak-anak kita?
Shinta (terdiam sebentar): Kok kamu jadi ge’er? Lagian belum lama kamu tau aku, kenapa sudah bilang cinta?
Rama (tersenyum): Bagiku waktu segitu sudah cukup untuk pahami isi hatiku.
Shinta: Kok bisa? Gimana jika kenyatan sesungguhnya aku adalah pelacur?
Rama: Aku akan tetap mencintaimu.
Shinta: Gombal!
Rama: Aku bersumpah!
Shinta: Kenapa?
Rama: Ya, hanya karena itulah aku disebut jantan.
Shinta: Hanya itu?
Rama: Karena aku selalu berusaha mencintai kelemahanmu.
Shinta (sinis): Emang kamu tau kelemahanku, Huh..?!
Rama: Sangat jelas.
Shinta (sewot): Sok tau! Emang kamu tau dari mana?
Rama (masih tersenyum): Karena sampai hari ini aku sudah berkali-kali dicintai dan mencintai betina karena kelebihan mereka yang tidak satu pun kelebihan-kelebihan itu kujumpai dari kamu sampai detik ini.

Shinta terdiam, tertunduk. Otaknya berputar keras berusaha menangkis kata-kata Rama, dadanya berdegub kencang menahan sakit hati, tapi batinnya belum mampu membantah ucapan monyet jantan dihadapannya.

Shinta: Sebenarnya apa yang sedang kamu harapkan dari aku?
Rama: Sebenarnya sederhana saja. Cintai aku karena kelemahanku. That’s it...
Shinta: Kenapa begitu?
Rama: Karena aku tau, terlalu banyak jantan yang kau cintai karena kelebihan mereka.

Rama melompat ke sebuah cabang pohon lain tak jauh dari Shinta yang semakin berkecamuk tak karuan. Di dalam dadanya masih terjadi silang sengkarut khas ala kaum betina, antara setuju, sakit hati, gengsi dan kesombongan. Tapi ternyata energinya terlalu lemah untuk pertarungan itu saat Rama berpamitan untuk pergi jauh dan sebisa mungkin tidak akan kembali lagi.

Rama: Mulai sekarang, lupakan semua ucapanku biar engkau lebih bebas memilih apa yang kau inginkan…

Rama melompat semakin menjauh hendak pergi.

Shinta: Rama...!

Rama terhenti, bergelantungan di sebuah cabang pohon tanpa menengokkan wajahnya ke arah Shinta yang menatapnya dalam-dalam.

Shinta (berbisik): Kini aku tau, kamulah jantan yang paling mencintai aku Rama... Kamulah jantan yang ingin kucintai selama ini...

Rama: Maafkan aku Shinta... Aku tidak ingin kau mencintai aku karena kau anggap aku sehebat itu. Aku hanya ingin kau mencintai kelemahanku agar hidup ini indah...

Shinta terguncang hebat. Ia hanya bisa menatap Rama yang mulai menjauh. Tapi belum begitu jauh, tiba-tiba Rama kembali berhenti. Kali ini ia menengok, menatap wajah Shinta dalam-dalam.

Rama: Ada yang lupa kukatakan... Aku baru sadar hari ini, sungguh! ternyata kau saangat cantik.... Selamat tinggal Shinta...

Rama kini melompat sangat jauh dan benar-benar menjauh.

”Monyet sialan.. monyet sok....!”
Saya menggerutu habis-habisan karena puluhan biji kacang yang saya lemparkan, hanya beberapa saja yang termakan. Sampai saya menangkap ekspresi tunduk yang luar biasa dari monyet betina di dekat saya. Sesekali masih menatap si jantan yang kini berkerumun dengan betina-betina lain di ujung kandang sebelum tertunduk kembali.

Saya pun ngga bisa untuk ngga tertegun menatap ekspresi jujur di hadapan saya. Tapi itu real sekali dari seekor monyet. Saya memang termasuk yang kurang yakin akan kebenaran theori Darwin, tapi ngga bisa mengelak juga dengan bukti empiris bahwa monyet mempunyai volume otak cukup besar. Sampai saya menebak dan merangkaikan bahasa romance yang menurut saya luar biasa tersaji begitu saja di hadapan saya sebagai anugerah.

Tentu saja, biar saya dedikasikan karya ini untuk 'para monyet' sajalah...



(WARNING: Original story by Sigit Ariansyah for International Short Film Festival)


Read more ...
16 September 2008

Zakat Maut itu...

Mau mulai menulis dari mana, saya bingung!

Rasanya seperti hampir meledak, hari ini saya berkumur dengan nasi yang tiba-tiba hambar di mulut melongo saat TV di depan saya menyajikan berita duka yang sesungguhnya terjadi setiap tahun. 21 orang ibu-ibu dan nenek-nenek tewas kehabisan oksigen dan puluhan lagi dirawat dirumah sakit ketika berebut zakat bersama 7 ribu rakyat miskin lainnya.

Demi Allah! Zakat itu adalah hak mutlak bagi kaum miskin, dan kewajiban yang ngga bisa ditawar bagi yang kebetulan kaya.

Ironinya, untuk sebuah hak yang wajib mereka dapatkan, para ibu itu justru di-set lebih mirip mengemis massal dan mengubangkan diri dengan memohon-mohon di halaman rumah mewah sang dermawan. Sungguh, ekspresi-ekspresi yang tertangkap kamera sangat membuat hati saya sakit.

Bayangkan, untuk jatah 30 Ribu Rupiah per kepala yang barangkali ludes untuk makan sehari dengan 4 orang anak, mereka rela kehilangan nyawa. Sementara bisa jadi meja makan di hadapan kita bernilai tidak kurang dari Rp. 300.000 untuk sekali makan dan kita masih berani tersenyum sebagai saudara sebangsa.

Sebenarnya apa yang salah dengan otak dan hati Bangsa besar ini? Mekanisme kah? Atau kebodohan? Semua orang lalu berteriak tentang itu.

Sang pembagi zakat pun berkilah, sejak tahun 70an tradisi ini sudah berlaku dan selama itu aman-aman saja.

Saya bilang, itu berarti orang miskin di kampung loe nambah! Dan kalo masih mau bertahan dengan pola pikir juragan kolonial ya hidup aja di hutan. Apa musti semua orang harus tau bahwa loe berzakat, sampe-sampe kewajiban itu harus dibagi di halaman rumah?

Polisi pun ngeles: Tidak ada pemberitahuan apapun kepada pihak kami bahwa akan ada acara pembagian zakat.

Hmm... saya berpikir, mungkin pak Haji sudah tidak mau repot lagi ngeluarin ongkos tambahan di luar zakat yang tidak termasuk dalam pahala, malah bisa-bisa uang itu dibilang syubhat, lagi...

Si pembaca berita menyayangkan: Kenapa sih nggak menggunakan badan Amil zakat resmi saja yang ditunjuk oleh pemerintah? Kan lebih terorganisir dan aman?

Lagi-lagi saya menebak, Pak Haji si Dermawan itu mungkin membatin ”Siapa yang ngurusin? Depag? Departemen terkorup itu? Kali aja dia termasuk rombongan haji yang dulu pernah terlantar karena catering haji dari depag terlambat, udah gitu lauknya ngga layak karena disunat dan basi pula.

Wallahu a’lam bisshawab....

Well, diluar tebak-menebak yang sebenarnya ngga imajinatif juga, karena itu memang nyata, tampaknya bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini musti banyak belajar menggunakan hati agar pandai merasakan, bukan hanya pintar berhitung.

Duit, rizki dan nafkah selalu menjadi tema yang terlalu seksi bagi bangsa ini. Ketika Inul dan Dewi Persik diprotes soal goyang panggungnya, dengan enteng mereka berkilah: ”Lho.. niat saya kan cari nafkah?” atau ”Ini kan jalan rizki saya..” bla..bla..bla... Wah, tar maling, pengedar CD bokep dan koruptor juga boleh dong...

Wajar saja, karena kemiskinan adalah horor yang begitu ditakuti semua orang. Maka itu para orang tua hari ini pun masih merasa perlu untuk memaksa anak-anak mereka untuk menjadi ”kaya” dan ”terkenal” bukan menjadi ”baik” dan ”pintar”. Demikian juga nasehat untuk anak yang berangkat kerja masih berbunyi: ”Baik-baik dan dekatlah sama bosmu biar kerjamu lancar...” bukanya ”Bekerjalah yang baik dan benar biar kamu berguna..”! Ujung-ujungnya profesi dukun dan motivator laris manis saat jalan mulai buntu. Hmm...masih sama seperti jaman dulu. So, kemajuannya di mannaaa...... (ngga perlu tanda tanya lagi).

Wait...wait... bukan berarti saya anti dengan duit ya... tapi paling tidak sampai hari ini saya masih berpendapat bahwa semakin baik dan maju apa yang kita kerjakan, pasti akan mendatangkan rizki yang lebih baik pula, secara otomatis. Memang, syaratnya KKN tidak boleh terlibat di sini. Lha wong udah mati-matian kerja aja masih ada produser yang tega ngga mau bayar kok..! hehe... tapi itu soal person. InsyaAllah saya optimis, bangsa ini ke depan akan semakin cerdas menyikapi hitam dan putih. Amin...

Saran, barangkali untuk pembagian zakat di kampung, door to door saya rasa akan jadi pilihan yang lebih efektif. Beberapa Amil zakat saja cukup, karena memang ada jatah menurut syari’ah untuk Amil zakat. Tapi kelemahan metode itu memang ada, si pemberi zakat tidak lagi heboh dan tenar sampe ke mana-mana. Masih mau zakat kan..?

Pilih dengan hati bukan otak...!

Read more ...
02 September 2008

Kembali Ramadhan....

Seperti tersedot, aku justru menjadi masa kecilku jauh di Makasar, kali ini.
Tersendat, tercekat luluh untuk pertama kalinya setelah sekian tahun hampir terlupakan.
Suara-suara itu melantun secara apa adanya, secara kampungan dari corong masjid yang juga sudah lama tak lagi menggeletar di gendang telingaku.

Suara-suara dalam dan indah itu yang dulu menggandeng tanganku, membimbing hatiku tiap kali Ramadhan menjelang.
Hiruk dalam sepi, sejuk dalam kering diri seorang laki-laki kecil yang tak pernah merasa memiliki maupun dimiliki oleh siapapun.
Laki-laki kecil sombong keras-kepala, yang kelak akan jatuh bangun dalam sujud-sujud pemikirannya sendiri, membangun mimpi-mimpinya hanya berdua dengan Penciptanya, lalu membuktikan sedikit senyum sebelum kembali tertunduk dalam tangis, pada Ilahnya..

dan malam ini, masih seperti malam-malam kemarin, kembali membisikkan sesuatu yang sama di hati ini. "Tak banyak yang mengerti engkau wahai laki-laki kecil, tak banyak yang sanggup memahami mimpi terlampau besar-mu. Tapi tetaplah tegap dan bersyukur menjadi dirimu sendiri, seperti biasanya...

Marhaban Yaa Ramadhan..
suara tarhim itu kembali membasahi rongga ini, meski hari-hari penuh berkah itu tak lagi seindah dulu, ketika aku bisa benar-benar hanya berdua dengan Ilah-ku....
Read more ...
08 Agustus 2008

Menjadi Bahagia

Hmm... sesungguhnyalah itu sekelumit bahasa yang sama sekali tidak lagi indah. Menjadi begitu karena semua orang mengucapkan dan berlari untuknya begiiitu-begituuu saja
Lalu ungkapan sedih, gelisah, adalah horor siang maupun malam yang panjang dan sepertinya akan terus berkepanjangan, semua orang terbirit-birit lari darinya, pun begiiitu-begitu saja.
Sungguh! Maha Bijaksana Allah yang secara ilmiah telah mendisain hormon yang mampu menggerakkan urat-urat ketawa sekaligus melengkapinya dengan hormon lain yang bekerja memproduksi sebuah cairan yang kelak, orang bule menyebutnya ’tears’ sedang saya dan orang Indonesia lainnya menamainya ’air mata’, hanya beda tipis dengan sebutan kami untuk apa yang para bule bilang ’sperm’. (pikirin sendiri dah...). Itu pun menimbulkan kebahagiaan luar biasa meski Cuma sesaat.
Ada yang menerima kebahagiaan dalam salah satu episode hidupnya, iapun membaginya dengan orang lain, biasanya dengan cara memberi sedekah bagi yang kurang mampu atau sekedar berpesta pora dengan kawan-kawan dekat.
Jaman kapitalism ini, biasanya kebahagian secara awam diterjemahkan dengan angka-angka. Maka menerima gaji atau fee adalah kebahagiaan yang selalu ditunggu-tunggu, meski cuma sesaat. Saya bilang sesaat, karena tagihan gaya hidup sebulan ke belakang biasanya sudah melewati ambang batas.
Sedang bahasa yang paling populer untuk menerka seseorang adalah ’sukses’. Indikasi yang disepakati cukup kasat mata, yakni mobil mewah keluaran terbaru, berlibur ke luar negeri atau mampu nraktir beberapa kawan di restoran mahal. So, pujian dan asumsi ’sukses’ versi awam itulah yang membuat dada meledak-ledak karena bahagia, kepala pun makin membesar.
Tantangannya adalah, ”masih mau bahagia?”
Jawabannya “Ya iya laah...”.
Caranya? Bisa dengan menangis maupun ketawa. Dan untuk kebahagiaan itu, seringkali kita harus membuat orang lain menangis atau ketawa.
Ada saran? Not really...! Tapi buat saya pribadi, bisa mencintai dan dicintai adalah anugerah luar biasa. Meski untuk itu pun masih juga harus menangis dan membuat tangis.
Di atas semuanya, meski berat, sejujurnya saya merindukan menjadi makhluk yang selalu patuh pada hati atas semua perintah-Nya, dengan sepenuh cinta. Yakin, di sinilah bahagia sesungguhnya itu bersemayam, di dada ini!
Namun apa, sampai hari ini pun saya bukanlah siapa-siapa....
Read more ...
09 Juli 2008

Romantisme yang Gagah


Borte, sang wanita terpilih sejak usianya belum genap 10 tahun. Kelak dialah yang akan ikut andil mensohorkan tanahMongol yang teguh-perkasa itu, tanpa banyak bicara. Struktur rahang segi empat membuat karakternya begitu kuat sebagai wanita yang loyal dengan suara hatinya, berambut hitam panjang, bermata sipit dan berkaki kokoh menapak bumi yang dijunjungnya dengan cinta sepenuh hati. Begitulah Temujin dan para lelaki Mongol menentukan pendamping hidupnya. Sang Khan Agung itu beruntung. Kelak, di tahun 1206 Borte memang menjadi kekuatan luar biasa dalam menorehkan peta dalam separuh dari sejarah dunia, tepat di sisi romantis yang gagah bagi Sang Genghis Khan yang pemberani itu.

Meresapi Mongolia, sungguh! Saya hampir tidak peduli dengan keperkasaan fisik seorang laki-laki. Namun kejujuran, kepolosan dan keteguhan cara berpikir merekalah yang membuat gerakan mereka begitu indah saat mengayunkan pedang dan menebas setiap batang leher pengkhianat, kepala demi kepala.

Sambil men-dialog-kan sikap lugas. ”Orang Mongol bebas untuk memilih siapa tuannya...!” Pun saya menangkap keberanian dalam dialog; ”Orang Mongol tidak menyakiti anak-anak dan wanita...!” atau ”Orang Mongol tidak berperang untuk wanita...!” Sebuah sikap bangsa yang tidak hanya berani, tapi juga cerdas! (menurut saya lho...!).

Alasannya? Menurut saya lagi, Sebagai lelaki, Temujin paham betul di mana seorang wanita harus berada, ditambah pula wanita-wanita seperti Borte pun benar-benar mengerti untuk apa dia ada. Biarlah saya memberanikan diri menyebutnya ’Romantisme yang Gagah’. Karena suka atau benci, sejarah di manapun selalu mencatat, cinta seperti mereka itu seringkali terbukti melahirkan sosok dahsyat yang mampu mewarnai dunia dengan gerak pemikirannya.

Borte berkali-kali siap menunggu berapa tahun pun hitungannya, untuk kedatangan Sang Pahlawan hanya berbekal sepenggal tulang gagak putih. Borte pun berani maju untuk membebaskan kekasihnya dari keterpurukan. Semua itu dengan sepenuh hati, sebulat keyakinan yang tulus. Maka pahlawan besar itupun hadir dengan gagah-berani diantara senyum manis yang utuh, tanpa paksaan. Sama sekali bukan senyum manis seekor buaya lapar!

Temujin, laki-laki yang jatuh-bangun berkali-kali. Seperti sosok hebat lainnya dalam daftar tokoh dunia, Temujin telah mengulum pahitnya dikhianati sejak ia masih terlalu kecil, ketika ayahnya dibunuh oleh pengkhianat pengecut, juga saat wanita terkasihnya diculik, atau ketika ia harus memikul penghinaan karena kalah perang, lalu dijual sebagai budak belian dan dilecehkan dalam gelapnya kurungan sempit seperti binatang.

Namun sebagaimana seorang bhiksu bilang, Temujin memang manusia langka yang memiliki jiwa yang terlalu kuat untuk dipatahkan. Dalam intuisi-magisnya, sang bhiksu menangkap gurat masa depan Mongol yang dahsyat di wajah Temujin. Mongolia yang mampu menguasai hampir separuh peta dunia melalui pedang di tangannya. Untuk itu, sang bhiksu rela mati dehidrasi demi sebongkah tulang burung gagak putih untuk Borte yang masih juga kokoh berdiri.

Satu hal yang membuat jiwa Temujin begitu teguh, adalah keyakinannya kepada Tengri sang dewa petir. Saat tak seorangpun ada untuknya, ia selalu bersimpuh selayaknya manusia lemah lainnya untuk sebuah kekuatan lain, sebuah Invisible-Power. Maka keyakinan itulah yang mengalahkan Jamuha, saudaranya dalam peperangan besar yang tergambar jelas dalam satu lagi dialog favorit saya: ”Ketika tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi, maka satu-satunya yang harus aku lakukan adalah membuang rasa takut itu...!”

Memang cool..! Sebuah kemenangan yang wajar dan layak didapatkan seorang hamba dengan kualitas keyakinan jiwa seperti itu...

Saya cukup memahami lompatan-lompatan waktu begitu jauh menjadi pilihan Sergey Bodrov dalam mengatur plot ceritanya. Meski kadang harus menyayangkan jumlah fade to black yang begitu banyak, tapi Bodrov cukup cerdas menyiasati alur waktu yang memang terlalu panjang dan dalam untuk dibicarakan ditail semuanya dalam sebuah film.

Ini adalah versi kesekian dari epic Mongolia yang pernah saya tonton. Herannya, lagi-lagi saya ga pernah bisa mengelak untuk harus terkagum-kagum. Perjuangan rakyat Mongolia bagi saya memang selalu seksi untuk dirasakan.

Barangkali se-seksi Gadjah Mada, nenek moyang ’hebat’ saya yang tidak lagi populer di hati anak-cucunya, kecuali sekedar menjadi nama sebuah perguruan tinggi tertua dan label untuk jalanan semrawut. Karena satu per satu pengagumnya telah mati tanpa peperangan, seperti kakek dan paman-paman saya yang selalu menceritakan kehebatan Majapahit kepada saya, dan setiap kali saya harus melongo karena kagum.

Sayang sekali, beberapa TV-serie tidak mampu memenuhi imaginasi saya sewaktu kecil tentang Gadjah Mada. Sebab setahu saya Gadjah Mada tidak belajar kungfu, jadi ia tidak perlu berterbangan dan jungkir-balik ke sana-ke mari kayak Jet Li saat berperang menaklukkan Nusantara.

Wallahu a’lam....

Read more ...
13 Juni 2008

Catatan Kecil Buat Munajah Cinta

Sejujurnya saya sedikit malas mau nulis soal yang satu ini. Tapi saya menangkap satu keharusan (untuk nggak menyebutnya gatal).

Suatu hari, tanpa sengaja saya nonton trailer (promo) Sinetron 'Munajah Cinta'. Ada adegan seorang wanita (Zaskia Mecca) tiba2 terjatuh pingsan entah kenapa, saya kurang paham karna sakit apa. Kebetulan di dekatnya berdiri si laki2 (Baim Wong) yang baru saja berwudlu, berdialog more/less begini: "Aduh maaf ya.. saya nggak bisa nolong, karena saya sudah berwudlu. Aduh.. maaf...."


Beberapa saat kemudian Ustadz kondang (UJE) dengan nada provokatif dan promotif berkomentar kurang lebih begini: "Subhanallah.. Sinetron ini benar2 mengandung pelajaran Fiqih..."

Mmm... menurut saya (pribadi):

1. Kalo si tokoh wanita (Zaskia) itu kemudian meninggal karena nggak tertolong, maka manusia paling berdosa adalah Baim Wong (Tentu saja setelah produser, sutradara dan penulisnya).

2. Kalo kemudian sinetron ini diikuti jutaan pemirsa laki-laki yang sedang berangkat jum'atan lalu mereka tidak mau menolong seorang ibu atau nenek2 yang kebetulan terjatuh dari sepedanya di jalan, karena alasan sudah berwudlu, maka umat bangsa ini harus lebih cerdas menyikapi apapun yang akan mereka tonton selanjutnya ...


3. Buat Ustadz UJE dan ustadz2 lain yang terlibat, boleh saja memberi pelajaran apapun melalui media seperti ini, bahkan harus. Tapi musti hati-hati dan ngga sekedar untuk tujuan promosi yang terkesan berlebihan, deh...

4. Barangkali saya perlu meminta maaf atas kelancangan ini. Bisa jadi saya salah. Apalagi saya nggak sempat tau adegan selanjutnya. Jika selanjutnya ada karakter (tokoh) lain yang muncul untuk memaki-maki Baim Wong atas kebodohannya lalu bergegas menolong wanita sekarat itu, maka kritikan saya ini jelas harus gugur. karakter tersebut pastilah seorang Kyai atau Ustadz yang paham betul tentang Fiqih berikut dalil2 Ushul Fiqh nya.

5. Sekali lagi mohon maaf, saya memang bukan seorang Ustadz, apalagi Ahli Fiqih, tapi saya siap untuk berdialog, jika itu memang diperlukan, demi apapun... Entah itu demi film/sinetron Indonesia maupun demi keluarga kita yang tiap hari setia menonton TV berjam-jam...

Salam...
Maju terus Film/Sinetron Indonesia yang bertanggung jawab...!
Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

follow