Jika tidak sedang menonton, anda pasti sedang ditonton. Sebab drama adalah anda, saya dan secuil ruang dunia yang sedang kita bagi ini....
22 Maret 2008

LoVE is cRaZY huH...?!

Sebenarnya sudah lama saya ambil gambar di atas dan sedikit saya beri sentuhan design grafis spontan, semau apa yang saya pikir saat itu. Saya di Jogja ketika itu, kebetulan sedang ada sedikit gawe untuk promo dan casting sebuah film di kawasan Kotabaru.

Macam-macam sebutan yang kita nobatkan untuk mereka, dari Orgil, Sakit Jiwa, Gembel, Kere, Glandangan, Wong Edan, dan lagi dan lagi... bahasa-bahasa yang sama sekali nggak enak itu berulang kali kita tanamkan dalam otak bawah sadar ini berikut lingkungan sekitar kita sambil meringis, kadang terbahak.

Sesekali saya lihat mereka ngobrol, lebih tepatnya berbisik entah tentang apa. Yang jelas saya yakin, lakinya nggak sedang membual tentang KPR-BTN dan wanitanya juga nggak terlihat merengek minta Sedan sport dua pintu atau Grand Cherokee. Satu-satunya yang saya tangkap adalah rasa saling menyayangi yang luar biasa diantara mereka, ada kebahagian yang benar-benar murni yang bisa saya rasakan di wajah mereka.

Menurut saya hanya di sinilah pepatah ’dunia milik berdua’ benar-benar berlaku. Lha wong saya jeprat-jepret ngelilingin mereka berkali-kali, tetep aja mereka nggak mau menganggap eksistensi saya ’ada’ di situ. Barangkali bagi mereka saya cuma ngontrak di dunia ini, hehe...

Saya jadi berpikir, jika dua orang yang telah kita sepakati sebagai Si Sakit Jiwa itu sanggup menggetarkan cinta-kasih melalui jiwa mereka seromantis dan semurni itu, lantas disebut apa kita-kita yang seringkali mengisi jiwa dengan pemahaman cinta sangat sempit hanya dari jumlah roda tunggangan, TV-flat 2 inch atau Kulkas 24 pintu...?
(jangan protes, saya juga tau itu kebalik
).

Love emang crazy! Kembali lagi...

Seperti magnet, objek di atas memaksa saya untuk terus tekun mengamati, memalingkan mata ini dari hiruk-pikuk acara yang berjubel wanita-wanita cantik sedang ikut casting itu. Lamaaa sekali sebelum saya akhirnya tersadar untuk mengeluarkan kamera dan memotret mereka. Hanya itu, sayang sekali. Hanya memotret dan sedikit ngobrol yang lebih terasa basa-basi nggak nyambung, tanpa ada hal lain yang bisa saya lakukan.

Dan hari itu saya pun belajar dari mereka, seperti yang spontan saya tulis sebagai copywriting pada design grafis beberapa tahun lalu itu:

”Seperti oksigen,
Cinta adalah perasaan indah
yang berhak dimiliki oleh siapa saja....”

Read more ...
17 Maret 2008

Blueberry Pie Rasa Hongkong

Andai tanpa sengaja saya lewat glodok dan melirik film ini lewat pesawat TV yang dijual di sana, 5 menit saja, dijamin saya akan tau bahwa ini gambar ciptaan Wong Kar Way. Setelah lebih dari setengah jam saya melototin film ini, seringkali saya lupa bahwa semua settingnya ada di Amrik. Masih untung pemain-pemainnya berwarna dan berstruktur tulang bule serta tidak berbahasa Canton

Hanya itu yang mengganjal di pikiran saya. Di luar angle-angle puitis, extreme close up, permainan refleksi cermin, slow motion seperti biasa, Wong Kar Way masih sedikit berbahasa asalnya dalam gambar-gambar My Blueberry Nights. Nuansa merah saga itu masih begitu berbicara meningkahi dark-blue yang dipilih untuk suasana malam Barat yang berkabut, tidak lagi dari kepulan asap dan sinar bohlam remang-remang milik penjual makanan kaki lima di pinggiran Hongkong.

Bergaya story-telling narrative seperti biasanya, Wong berusaha menganalogikan pergulatan Elizabeth (Norah Jones) yang berbagi kegelisahan dengan seorang pemilik cafe bernama Jeremy (Jude Law) melalui medium Blueberry Pie bertabur Vanilla Ice Cream yang tidak disukai orang dan selalu tersisa tiap kali café tutup.

Elizabeth yang gusar mempertegas kecemburuan batinnya saat Jeremy mengiyakan pertanyaan bahwa pacarnya sering datang ke cafe itu bersama wanita lain.

“Apa ia lebih cantik? Lebih sexy? Ataukah aku terlalu buruk...?”

Semua itu oleh Wong Kar Way ditarik menjadi sebuah perpisahan panjang untuk menguak jawaban bagi Elizabeth melalui pertemuannya dengan berbagai karakter lain dengan pergulatan problematika berbeda, diantaranya, Arnie (David Strathairn), Sue Lynne (Rachel Weisz), Leslie (Natalie Portman), Katya (Chan Marshall) di kota lain, namun tetap sama-sama di cafe.

Sepertinya Wong kesulitan menemukan muara baru (selain cafe, offcourse!) bagi pergumulan karakter-karakternya. Memang, ada scene jalanan padang rumput Amerika ala Hollywood style. Beberapa kali, karakter Sue Lynne beserta problematika keluarganyalah yang justru banyak menyadarkan saya bahwa ini setting di Amerika. Namun masih ada beberapa dramatic-response terasa tragic dan melancholic khas Wong Kar Way yang sulit untuk saya terima bahwa itu dilakukan oleh Americans in America.

Memang, Blueberry Pie bertabur Vanilla Ice Cream yang kurang laku itu hanyalah soal selera. Pada akhirnya justru sisa-sisa Vanilla Ice Cream yang belepotan di bibir Elizabeth itu benar-benar menjadi medium yang cerdas bagi Wong untuk menciptakan adegan kissing dari hi-angle yang sangat sexy. Meski untuk itu memerlukan penantian panjang sebelumnya. Seperti penantian kevakuman penonton yang saya bayangkan untuk film yang berjalan lambat ini memang terlalu lambat untuk sebuah film commercial yang tentunya diharapkan mengeruk dolar.

Overall, Wong Kar Way tetap menjadi dirinya yang luar biasa berpengaruh bagi banyak filmmaker dunia, khususnya art film.. Gambar-gambar puitis, iconic, beat-beat sensual pada backsoundnya, terobosan cahaya blue-nite yang romantis, dan entah apalagi yang akan keluar dari kepalanya setelah ini.

And I’ll be waitin’...

Read more ...
07 Maret 2008

Tukul and The Unseen-Power

Fast and Various...
Kurang lebih begitu kesan saya sehari bekerja bareng sosok Tukul Arwana. Maksudnya, shooting (untuk sebuah iklan) itu berjalan cepat dan tepat. Karena saya baru sadar, Tukul cukup cerdas melahap materi dialog sebanyak itu tanpa ada reading apalagi rehearsal di hari-hari sebelumnya. Hanya sekali saya nge-brief dia sebelum camera roll. Various, sebab saya harus merelakan banyak waktu break untuk membiarkan setiap orang di lokasi shooting berfoto bersama sang superstars.

Menarik mengamati perjalanan satu orang ini. Tiba-tiba saja ia melejit, dibicarakan dan menjadi icon. Tiba-tiba setiap orang pengen berfoto bersama dia. Barangkali jutaan orang bernafsu dan melakukan apa saja agar bisa terkenal. Tapi Tukul, tiba-tiba ia bangun pagi dan menjadi seorang superstars. Tiba-tiba?

Nggak juga..! Di sela shooting ia banyak bercerita kepada saya tentang masa lalunya yang pahit, perjalanan jatuh dan bangkitnya kembali untuk memperbaiki kualitas hidup keluarganya dan seterusnya. Sebenarnya semua orang tau itu, karena infotainment sangat hobi mengangkat kisah-kisah semacam ini. Kisah financial-hero bagi keluarga emang selalu menarik.

Tapi saya menangkap sisi lain dari sosok Tukul ini. Dia memiliki kecerdasan spiritual yang oke. Seperti, bagaimana dengan detail ia menggambarkan bahwa setiap makanan atau minuman yang ia dapatkan ia syukuri sejak berada di tangan, memasuki mulut, melewati tenggorokan hingga sampai di lambung dengan terus berusaha ikhlas dan sadar mengucapkan ’hamdalah’. Merutnya itu sudah berjalan lama dan ia terus berusaha untuk menjaganya.

Luar biasa..! Dari banyak usaha-usaha spiritual menuju sukses yang mampir di telinga, bagi saya ini yang paling logic. Yang lain, seperti mandi kembang, angka keberuntungan, ziarah makam keramat bla..bla..bla... Semua itu cukup membuat saya merasa bodoh mendengarnya. Sebaliknya, ada juga orang yang dengan over-sombong meyakini bahwa keberhasilanya adalah melulu karena kerja keras dan keuletannya semata, biasanya ditambahkan juga (tapi sedikit lebih halus) bahwa semua ini karena kecerdasannya. Ia sama sekali lupa dengan campur tangan apa yang saya sebut ’The Unseen Power’. Spesies beginian biasanya membuat saya memikirkan sebuah penemuan baru, menciptakan pintu electric otomatis lengkap dengan remote controlnya untuk telinga saya. Hehe...

Saya pikir pantas saja Tukul bisa sehebat sekarang ini. Bagaimana dengan jatuh lagi? Someday? I said: Nothing imposible. Setiap kita emang tidak hanya harus siap tapi juga harus kuat menerima ’Rahmat’, sekaligus ikhlas jika suatu saat tertimpa musibah. Lho! Ya.. iya laah... Menurut saya lagi, kita hanya bisa mengantisipasi tidak lebih dari 50% saja untuk mengendalikan setiap kejadian. Sisanya adalah wilayah di luar jangkauan logika kemanusiaan kita, wilayah milik The Unseen Power, wilayah yang membuat banyak orang menjadi gila karena ikut-ikutan mikirin. Semoga mas Tukul tetap sadar untuk tetap kuat berpegangan, di posisi yang juga sedang menjadi tujuan kebanyakan orang itu...

Read more ...
14 Januari 2008

That Transformers


TRANSFORMERS....

Akhirnya saya tonton juga nih film... Setelah kuping ini gatal tiap hari denger film ini dielu-elukan dan dipuji habis. Bahkan gak sedikit koran atau majalah yang menjabarkan setiap detail kecanggihannya dengan meledak-ledak. Penasarannn...

I said, mmmmm...... just feels like I've seen before, somewhere....
Sumpah! gak bohong. Saya benar-benar merasakan bentuk lain dari Hollywood Billion American Dolars Show-off, terus Compulsed Hero asli Amerika (ofcourse he's the winner too), sedikit suspense dan lelucon khas Hollywood, lalu diakhiri dengan happy-touching ending seperti biasanya, lengkap dengan sepasang kekasih yang akhirnya jadian justru disaat film mau bubar. Pokoknya agak-agak mengharu biru gitu lah...

Film yang menekankan ketekunan teknologi post-pro dengan mengoptimalkan 3D animation ini memang berteknologi dan wow! Lagi-lagi dibalut dengan cerita tipis tentang betapa heroiknya Amerika yang kebetulan warganya terlibat aksi menyelamatkan bumi dari serangan klan Robotic dari planet lain. Seperti biasa, Ada robot jahat mengerikan yang hoby menghancurkan gedung-gedung dan membuat ratusan mobil saling tabrak, namun seperti biasa pula, ada juga robot baik hati yang dikomandani oleh Optimus Prime yang heroik, bla..bla..bla... (Pasti sudah tau, yang baik hati menang kan..?).

Awal-awal peperangan justru dilakukan (lagi-lagi) di Timur Tengah. Entah kenapa , tapi kayaknya ada hubungannya dengan dialog samar seorang tentara Amerika saat menangkap sinyal dari planet lain yang tak dikenal. Terjemahanya kurang/lebih begini: "Ini pasti teknologi Iran" lalu tentara lain tertawa sinis dan menjawab "Mana mungkin teknologi Iran semaju ini, hehe..."!

Hmmm... dua dialog yang sangat mahal biayanya dan sedikit maksa deh...! Sama juga dengan dialog lain tentang Handphone Nokia. Di tengah kepanikan, sempet-sempetnya ada dua orang Amerika memperdebatkan bahwa NOKIA itu bukan buatan Jepang, tapi Findland. Lalu dialog itu diakhiri dengan "Tapi NOKIA kan.. yaa gitu laah..." katanya sinis.
So, what ? Cuma mau nyuruh dunia pake HP produksi Amerika? It's just choice. Isn't it?

Okey..okey.. Uncle..You are the winner laaah...

Tentu saja saya sangat terhibur nonton film canggih ini. Tapi sejujurnya, saya benar-benar merasa brainless aja sepanjang durasi filmnya Michael Bay ini. Melongo, terpukau, terpaku karena kecanggihan teknologinya.
I guess,
this is another kind of hollywood hipnotizes... he he...
Bahkan ganjalan-ganjalan logika saya baru jernih ketika saya musti me-rewind lagi beberapa adegan dan dialog yang mmm... gimanaaa gitu..

Anyway..! Buat transformers, selamat untuk penjualan tiket maupun versi home videonya di seluruh dunia. Awesome!

I think I'm in such the mood of silly, right now...

Read more ...
06 Januari 2008

Plagiator of Photography


Lebih dari setahun lalu,
Saat itu saya tengah merampungkan screenplay, sebuah
Drama Romance untuk FTV. Sahabat saya datang, ngajak ngopi lalu berdiskusi seperti biasa. Tiba-tiba sahabat saya itu menyinggung soal naskah yang sedang saya geluti yang memang sempat dia baca sebelumnya. Dia protes ”Kok ceritanya sama kayak ’Cinta Silver’ sih? Kamu terpengaruh ya..”

Dhueng..!!!

”O ya??”, saya kuuaget dan puuanik, karena memang saya belum sempet nonton film itu. ”Bagian yang mana? Masak iya sih?”

”Halah.. itu kan sama-sama tentang foto model, fotografer dan kisah-kisah cinta mereka...”

Ketenangannya menjawab sanggup meyakinkan saya dan itu cukup membuat saya drop saat itu juga. Apalagi beberapa hari setelah itu masih ada dua atau tiga orang lagi yang berkomentar sama. Wah, tar dicap
plagiator, lagi! Tiba-tiba saya sibuk dengan kegusaran sendiri. Merombak plot cerita, mengganti karakter-karakter, atau memulai naskah yang sama sekali baru? Itu berlangsung berhari-hari. Finally tidak ada satupun yang saya lakukan untuk naskah itu.

Setelah Lebih dari setahun,
Beberapa hari lalu saya mendapat messeges di Youtube dari seorang teman dari komunitas film indie di Jawa Barat. Dia share ke saya bahwa dia baru menyelesaikan sebuah naskah film pendek dan akan segera ia produksi. Hari itu juga dia katakan baru saja selesai nonton sebuah Film Barat dan ia merasa bahwa banyak kesamaan dengan naskah barunya. Ia pun gusar, ”What do you think I’ve todo now?” nadanya seperti pasrah di email itu.

Me? Stupid Silent…

Percaya atau tidak, saya pergi ke rumah temen dan melihat DVD ’Cinta Silver’ di rak koleksinya. Spontan saya teriak ”Ini tak pinjem atau nyawa??” Dan malam itu akhirnya saya bisa nonton ’Cinta Silver’ meski hampir tanpa mempedulikan kecantikan Luna Maya. Karena saya bener-bener detail melototin setiap scene bahkan frame-framenya. Itu salah satu film Indonesia yang harus saya acungi jempol. Salut buat mas Lance.

Dhuengg Lagi..!!!

You Know What?? Saya tidak menemukan satu pun plot cerita, content maupun messages yang sama dengan naskah yang saya tulis satu setengah tahun lalu itu. Kecuali kebetulan sama-sama ada karakter fotografer dan modelnya. Okey.. okey.. memang masih ada yang sama lagi. Mau tau kesamaan lainnya? Yup! Sama-sama ada rumah, mobil, orang berjalan, handphone, tas, baju dan banyak lagi.

Secara photography memang ada beberapa imaginasi saya yang juga ada di film itu, seperti saat adegan pemotretan di beberapa lokasi. Tapi menurut saya wajar-wajar aja sih, dan saya yakin hasilnya jelas akan berbeda, mengingat eksekutor dan situasi /kondisi yang berbeda pula. Bagi saya itu saja tidak cukup untuk dicap sebagai Plagiator of Photography (hehe, dapet istilah baru nih..).

Seketika saya buka komputer dan membalas email teman baru saya di Youtube yang sempat saya cuekin. Ini copy/paste nya:
Kalo memang yakin ide ente original, tancap aja! dengan catatan tetap compromize jika memang ada yang terlalu sama persis.
Dalam soal ide, kebetulan sama, terpengaruh dan terinspirasi itu sah-sah aja. Kalopun musti sama, jika memang itu bukan ngejiplak, pastilah feelnya tetap beda. Sebab setiap orang pasti berbeda isi kepala dan taste. Kecuali ada yang terang-terangan ngejiplak atau ngutip mentah-mentah!

Maju terus n sukses ya...

Nonton setelah Lebih dari setahun,
Emang sih.. sedikit merasa seperti ketinggalan jaman gitu..
Makanya jangan sampai ketinggalan lagi! Tonton terus Film baru Indonesia (saran: yang punya taste aja dech..).

Iya.. iyaaa... sori! Mmmm..... NOMAT yuk?!

Read more ...
23 Desember 2007

My First Love That Never End


Wanita indah itu…

Di mata kecilku, ia teramat cantik, lembut, anggun dan cerdas. Rambut hitamnya yang panjang terbalut senyum manis itu terasa begiiitu menyejukkan. It's true...!

Sejujurnya, semua itu memaksaku mengakui simbol kesetiaan yang tertanam dalam-dalam di pangkal lubuk hatinya. Dia begitu karena dia cerdas...

Lembut belaiannya belum pernah pudar meski harus tersakiti oleh kerasnya ego-ku. Kesetiaannya tidak sedikitpun terbelotkan oleh pengkhianatanku. Kesabarannya adalah kasih sayang tanpa pamrih yang cukup teruji. Karena ia wanita yang tahu betul bahwa cintanya adalah hati yang tak pernah mungkin tergadai oleh berapa metric-Ton pun emas murni.

Ada saat aku harus pergi sebagai lelaki yang musti menantang kerasnya dunia. Kutinggalkan dia dalam sepi jiwanya bahkan sempat kulupakan ia begitu saja, diantara hiruk-pikuk keinginan-keinginan dunia dan kendali kapitalisme yang mulai bernafsu menghambakanku.

Namun apa? Aku kembali dan mendapati jiwa dan cinta itu masih utuh, tulus. Sepasang mata itu tetap jernih menelanjangiku seperti dulu. Utuh, tanpa cacat...!

Ada malam ketika sepi membekukan ego ini. Ego yang sama, saat berpuluh tahun lalu teriak-tangisku membuatnya kelabakan ketika ia seharusnya nyaman dalam mimpi indahnya. Namun ia tetap lembut menghiburku, membelai jiwa ini dengan caranya yang tak akan pernah bisa ku lupakan sampai hari ini.

Sampai detik ini, di mana justru jiwa lelakiku lah yang bisa membuatku kembali menangis untuknya. Dalam sepi, sendiri…

Wanita indah itu....

Selamat malam Ibu... Apa kabarmu di sana?
Demi Allah aku saaangat merindukanmu, Aku saaangat menginginkan kebahagiakan untukmu, meski aku tidak pernah berani mengatakan akan membalas cinta terbaikmu. Karena aku tahu, aku tidak akan pernah sanggup untuk itu...

Bahkan begitupun sampai detik ini aku masih juga merepotkanmu dalam malam-malam Tahajjudmu. Engkau paham betul, aku tidak akan bisa melanjutkan langkah ini tanpa restu dan doamu.
Masih juga aku memohon, Ibu harus terus ada untukku. Please…

Ibu... dari titik terendah ego seorang laki-laki, harus jujur kukatakan bahwa You are my first love that never end...  dengan maupun tanpa HARI IBU….




Read more ...
20 Desember 2007

26 Desember Itu...


Dibalik Cerita
26 Desember 2004. Bangun tidur lalu nonton TV, kaget karena semua channel dipenuhi berita tentang terjadinya tsunami. "Ada apa..? Tsunami..! Di mana..?" tapi pertanyaan-pertanyaan akibat melek belum sempurna itu gak berlangsung lama. Saya segera paham telah terjadi bencana dahsyat di Aceh, gempa dan tsunami. Tapi....?

Merinding saya menyaksikan video kiriman yang diputar di sana. Percaya atau tidak, air mata saya benar-benar meleleh sebelum saya sadari sendiri. Hampir seharian saya duduk di depan TV mengikuti setiap perkembangan dengan isi kepala berkecamuk. Aceh, saya punya banyak sekali sahabat di sana. Bersamaan dengan itu, dari TV yang sama, lamat-lama saya mendengar lagu "Dari Sabang Sampai Merauke" diputar.

Tiba-tiba saya berpikir, entah gimana awalnya; "Apakah saudara-saudara di Papua sana sekarang juga nonton TV dan menangis sedih seperti saya ya...?" Mengingat, sahabat saya yang tinggal di sana pun nggak sedikit.

Nggak sabar menunggu jawaban, saya SMS beberapa teman di Papua tentang pertanyaan ganjil saya itu. Ada yang menjawab "Ya Iya laah...!". Yang lain membalas, "Hanya orang sakit jiwa kali, yang nggak ikut sedih...!"

Entah kenapa, tiba-tiba saya merasa seperti menemukan sesuatu yang baru dari Tuhan. Bahwa seandainya setiap orang di dunia ini menanggalkan segala atribut pribadinya seperti bendera, ras, suku, agama, club sepakbola, dan sebagainya, maka sesungguhnya seluruh manusia sudah dipersatukan oleh rasa, tanpa perlu kampanye apalagi maksa.

Dari situ, jadilah "DESEMBER'26" beberapa lembar screenplay yang kemudian kami produksi dengan perjuangan luar biasa untuk menjadikannya sebuah film. Harapan besar kami, semoga semua itu bermanfaat untuk dunia, untuk Indonesia, dari Sabang sampai Merauke...


Cerita
Dibalik
Mustahil mengeksekusi ide awal yang ada set
ting Papua. Titik. Yup! Emang dananya dari Hongkong...( kok, kenapa nggak Jakarta aja sih? Hehe..). Maka mengulik cerita harus dilakukan. Jadilah Jogja dan dinamika para mahasiswanya menjadi setting utama, dengan focus point pada mahasiswa asal Papua di sana. Anak muda dengan berbagai ciri jiwa mudanya menjadi pilihan kami untuk merangakai plot cerita menjadi lebih dinamis namun tetap natural.

Siang-malam selama tiga minggu kami habiskan untuk persiapan, casting, reading dan rehearsal. Kami lebur bersama lebih dari 80 orang pemain dari berbagai suku, ras, agama dan profesi termasuk kelompok-kelompok dancer yang luar biasa itu. Kerjasama yang sangat indah, menurut saya.

Besok pagi shooting, schedule sudah tersusun rapi. Tiba-tiba ada beberapa teman dari Papua yang datang sekitar jam 4 sore. Mereka sedikit mengkomplain beberapa bagian dalam content naskah. Mereka cukup terbuka, menurut saya. Kami pun berdiskusi berjam-jam. Cukup melelahkan tapi terasa asyik dan ilmiah. Finally, saya setuju untuk merubah beberapa point di dalam naskah itu sebelum shooting.

Lagi, malam itu saya berkutat dengan screenplay, membolak-balik cerita dan dialog. Belum lagi astrada yang juga kembali pusing harus bergumul lagi dengan shooting schedule yang otomatis jadi berubah total.

Sampai pagi, dan kami shooting sebelum tidur...

________________________

Judul : DESEMBER'26

Genre : Drama-tragedy-humanity
Production : Xcode & Zerosith
Writer & Director : Sigit Ariansyah

_______________________________
For more detail please visit
http://desember26film.blogspot.com


DESEMBER'26 TRAILER

Simply inspired by the Indonesian national song "Dari Sabang Sampai Merauke", It's a short film about union and humanity, smartly used Aceh Tsunami 2004 ago as the simple story background in a difference point of view from Papua students.

Read more ...
25 November 2007

Gondrong Opo Salak?

(So sorry I really can't translate it to any languages)

Malem-malem, seorang sahabat seprofesi saya datang tergopoh-gopoh. Meletakkan ransel, melepas jaket, menyalakan rokok lalu menatap saya. Tajam, serius dan meyakinkan, bahkan sebelum saya sempat menawarinya mau minum kopi panas, sirup kopi atau jus kopi seperti biasanya (don't ever try this at home!).

"Bro, aku mau bikin film dokumenter. Equipment, crew, everything sudah ready semua…!" katanya mantab sekali.

"Wah syipp! Dapet sponsor neh... berarti ke sini pasti mau ngasi aku job ya.." saya pun ikut sueneng.

"Bukan gitu, maksudku ke sini mau nanya, apa ente punya tema dokumenter yang bagus nggak?"

Gleg...!

Saya tiba-tiba jadi senep, bukan karena nggak dikasi job. Tapi kaget aja, kok bisa, mau berkarya kok content-nya baru dicari-cari belakangan?! Apa itu gak sama aja nyiapin piring dan sendok duluan, baru bertanya 'makan apa yak?' Hmm...

Sepengetahuan saya, ada saat kepala terasa mau meledak setelah melihat, mendengar, merasakan berbagai hal di sekitar kita, saat itulah saya biasanya menumpahkannya menjadi suatu karya apapun bentuknya, at least SMS. Bahasa gaulnya berekspresi gitulah... Dengan begitu saya berharap tahu dan paham betul apa yang akan saya bicarakan atau lakukan. Mungkin karena itu juga kenapa saya merasa stupid kalo disuruh bikin misalnya sundel bolos, suster ngepot dan spesies lain serupa itu. Tapi okelah.., teman saya bilang stupid is delicious . I think I need to try it anyway, hehe..

Berbeda dengan teman saya yang satu lagi. Sejak bertahun-tahun lalu saya melihat dia termasuk orang dengan pemikiran-pemikiran yang brillian. Bahkan ia juga cukup getol mempelajari hal-hal teknis dan toritis sebelum dia benar-benar melangkah. Sialnya, justru karena itu ia kemudian terjebak dalam ketakutannya sendiri dan tidak kunjung berkarya sampai hari ini. Menurutnya ia masih merasa belum mampu dan malu jika belum benar-benar menguasai teori.

Oh my Lord... plis deh, dong... teori mana yang bisa berhenti pada suatu titik beku tertentu? Yang ada juga teori dengan style-style baru yang akan terus bermunculan. Kalo kita berpikir bahwa berkarya itu sekedar unjuk kebolehan, kuntilanak pun ngga' akan pede untuk berkarya (kok kuntilanak?).
Tetap pada keyakinan saya, karena berkarya itu hanyalah mengeluarkan isi kepala secara apa adanya dan setiap kepala berbeda-beda isinya.

Emang sih, yang parahnya banyak juga yang belum sempet ngisi kepalanya sudah berkarya, laku dan kaya pula. Udah gitu episodenya diperpanjang, dapet penghargaan lagi. Habis itu jelas, yang lain ikut-ikutan. Hmm.. I lllooove this generation...

Jadi inget, saya pernah ketemu laki-laki gondrong yang menyapa saya di sebuah pertokoan. Saya hampir pangling, ternyata dia itu teman lama saya. (Teman mulu? Iya, soalnya kucing saya ngga gondrong...)

"Wah, kerrenn.. sekarang jadi gondrong gini ya?" kata saya kagum.

"Hehe.. iya neh, soalnya minggu depan aku mau kursus gitar...!"

Dhuengg...!!!

hmmm... Gondrong Opo Salak...?


Read more ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

follow